Friday, March 11, 2016

TV Set


Tadi sore ibu-ibu yang satu ini sedang sedikit bersih-bersih rumah.  Saat sedang nge-lap TV mendadak saya jadi punya perasaan kasihan sama si TV, bukan karena ia agak berdebu, tapi saya terharu aja sama nasibnya yang agak terabaikan. Sambil berusaha nginget-nginget kapan ya saya beli TV ini? Samsung Flat Screen TV, saya gak tauk ini berapa inch. Nggak kecil tapi juga bukan yg ukurannya super gede. Perkiraan saya sih TV ini saya beli sekitar 4 tahun yang lalu.


Hari ini sang TV jadi topik pikiran saya.  Entah kenapa saya mulai merasakan bahwa sudah beberapa tahun terakhir ini TV di rumah kita seolah cuma sekedar dekorasi alias barang pajangan. Cuma nongkrong ditempatnya di ruang keluarga (Saya gak pake TV di kamar). Sering kali TV menyala tapi kadang gak ada yang nonton dan biasanya saya pula yang mematikannya. Seringnya sih yang nonton acara-acara tertentu dari chanel TV itu cuma suami dan Griffin. Saya nonton TV cuma sekelebatan yang artinya cuma di saat TV kebetulan sedang menyala dan saya sedang duduk disekitar situ. Lebihnya TV kita pakai buat main Wii dan itu pun sebelum Wii player-nya bermasalah beberapa bulan lalu. Buat nonton Blu-Ray atau DVD apalagi, udah tiga tahunan saya gak pernah pasang film di player meskipun saya punya satu lemari penuh koleksi film dari tahun-tahun yang lalu.

Semua ini akibat gadget! *Yup! Blame the technology*. Sejak ada Netflix saya lebih suka nonton film di laptop atau di iPad. Bukan apa-apa, saya lebih senang bisa memilih sendiri film yang akan saya tonton. Suami senang main game dan kadang nonton film dari laptopnya. Anak gadis sibuk dengan handphone dan laptopnya. Anak bungsu senang main game dan meskipun saya kurang setuju- namun karena ayahnya terlalu kekinian jadilah si bungsu memiliki laptop, PSVita, DSNintendo, Wii, dan yang terakhir dapat jatah handphone Samsung S3 lungsuran saya (untuk digunakan di rumah saja). Yaaa walau anak-anak terutama yang kecil dibatasi pemakaian gadget nya- tetap saja TV terabaikan, di-anggurin (bukan dijadikan anggur loh, yaa! hehee). Kalo pun sedang tidak menggunakan gadget mereka lebih senang membaca, mengerjakan tugas sekolah atau melakukan hal-hal lainnya ketimbang duduk nonton didepan TV. 
Dan sebenarnya sih di jaman sekarang kita sudah bisa menikmati film dari internet lewat TV, cuma sepertinya boro-boro terpikir buat ganti TV yang lebih apdate dan lebih besar karena tampaknya semua orang di rumah ini lebih memilih nonton film di laptop ataupun di iPad dikamar masing-masing. 

*Maaf ya, TV*

Sekarang yang terpikir seandainya TV diganti dengan yang super besar dan canggih, saya khawatir kita tidak bisa beranjak dari depan TV. Akhirnya nanti malah jadi masalah karena semua ingin menggunakan TV untuk kepentingannya masing-masing (nonton fim atau main game)- lalu kakak adik malah jadi sering bertengkar rebutan remote. Dan kalau saya pikir lebih panjang lagi (maklum deh ibu-ibu) buat beli TV yang begitu mesti ngeluarin duit banyak sementara kita empat kepala di rumah masing-masing sudah punya 'mainan' lebih dari satu. Jadi buat apa beli TV baru kalo gak perlu? 

Eman-eman duite .. 

Kesimpulannya TV di rumah ini bukan lagi jadi benda yang penting. Gak menyala seharian pun gak masalah. Karena umumnya kalau sedang tidak mengerjakan sesuatu penghuni rumah sibuk dengan gadget-nya atau kesibukannya masing-masing.

Hhhmm!






Friday, March 04, 2016

Nggak Seram Tapi Horror!


Kemarin malam karena gak ngerti lagi mau nonton film apa, saat browsing di Youtube saya menemukan sebuah film pendek di Youtube, horror tentunya. Pendek, tapi sangat menarik! Genre-nya memang horror, namun sama sekali tidak menyeramkan. Tapi yaaa, horror!
*Hahaha, bingung kan? Enggak seram tapi horror!*

Menurut saya ide ceritanya sungguh orisinil, tak terbayangkan sebelumnya. Jadi kalau ada yang penasaran silahkan nonton aja deh ...


Ngomong-ngomong screen capture diatas ini ngaco banget- karena sama sekali nggak ada adegan ini dan gak ada orang-orang itu di film-nya. So, nggak usah pada takut, saya janji filmnya berbeda, agak aneh, dan nggak seram! Durasinya pendek, kurang dari 30 menit.

Film pendek yang kedua ini juga agak beda dan gak horror. Menurut saya idenya boleh juga.



Enjoy!





Friday, January 15, 2016

Tetangga Bawah, Part 2.


Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang tetangga yang tinggalnya persis dilantai bawah unit kami. Itu loooh Belanda couple tanpa anak yang dikit2 merasa terganggu mendengar suara Griffin si kecil saya yang berlarian dan berloncatan disana sini. Nah, sudah cukup lama berbulan bulan sepertinya malah nyaris hampir setahun kita gak pernah lagi mendengar komplen dan ketukan2 mereka dari lantai bawah, sampai saya sendiri sudah lama lupa kalau mereka biasa mengetuk ngetuk dari bawah. Apa karena sekarang rumah kita lumayan padat dengan banyak perabot membuat suara lebih teredam? Selama ini kita nggak pernah sekalipun bertemu lagi atau bahkan berpapasan disekitar apartemen hingga hari ini saya dengan tidak sengaja bertemu si istri didepan lift. Saya baru saja melangkah keluar lift dan perempuan itu hendak melangkah masuk kedalam lift. Ada sekitar 3 detik kita sama2 tercengang sebelum akhirnya saling menyapa. Tapi yang jelas saya yang lebih lama tercengang melihatnya menenteng baby car seat lengkap dengan seorang bayi laki2 didalamnya. Aaahh lutuna ini baby!

Saya : Apa kabar? Ini anak kamu? Cakepnyaa ..
Dia : Iya.
Saya : Wah saya bahkan nggak tauk kapan kamu hamil dan kapan dia lahir.
Dia : Ya, dia ini sekarang umur 5 bulan.
Saya : Pantas kalian sudah lama gak kelihatan, sibuk ya, punya bayi pula.
Dia : Iya, maaf ya kalau dia sering menangis kencang2 ... terdengar sampai atas ya.
Saya : Ah gak apa2 .. (Padahal saya sambil mikir2 nih, kapan ya saya pernah dengar suara bayi nangis?)
Dia : Apalagi kalau tengah malam menangisnya kencang sekali, pasti kalian keberisikan. (Oooohh, ternyata yg tiap malem nangis2 itu dia punya bayi? Hehhe)
Saya : Gak apa2 kok, namanya juga bayi. Masa saya mau marah2 sama bayi? (Semoga sindiran saya kena)
Dia : Saya khawatir kalian tetangga terganggu. (Ciyeee, dia khawatir)
Saya : Disini kan yang punya anak kecil dan bayi kan bukan cuma kamu. Sudah pasti semua sama2 ngerti. Lagipula dia ini masih bayi belum apa2, tunggu saat nanti dia sudah mulai bisa benar2 berjalan dan berlari. Pfffff!! (Saya pasang rolling eyes. Seneng aja nakut2in, bisa aja anaknya bakal pecicilan spt Griffin trus gantian dia yang bakal bolak balik dikomplen tetangga bawah mereka. Hehhee)

Entah kenapa setelah hari itu saya malah jadi agak sering berpapasan dengan mereka, entah si istri entah si suami, bahkan kadang mereka berdua. Dan yang ajaibnya tiap kali berpapasan mereka gak pernah lupa bilang "Maaf ya kalo si bayi mengganggu tidur kalian". Setiap kali. Haduh, sepertinya mereka sekarang jadi parno sendiri sama kita. Dulu2 saat masih single kurang toleransi sama tetangga, tepatnya sama anak kecil. Sekarang setelah punya baby sptnya mereka jadi malu hati karena merasakan sendiri situasi2 yang kadang susah kita kendalikan. Dan menurut dugaan saya yang sok tauk ini, pastinya punya bayi itu diluar rencana mereka. Logika saya kalau orang memang sudah ingin punya anak seharusnya mereka sudah paham bagaimana situasi kondisi rumah dgn adanya anak2. Setidaknya mereka bisa lebih memahami dan lebih bertoleransi dgn keributan yang diciptakan anak2, sadar bahwa suatu saat mereka mungkin akan berada di posisi yang sama dan mengalami hal yang sama. Eh, sori, bahkan orang yang single pun banyaaaaak yang bisa toleransi ke anak2 atau ke orang lain. Iya nggak sih?

Saya memang udah beberapa lama ini seringnya tiap tengah malam mendengar bayi menangis. Tapi suwer deh itu tidak mengganggu saya karena bagi saya suara orang2 mengobrol, suara bayi menangis, dan suara2 yang ditimbulkan oleh anak2 bermain tertawa berteriak (yang alami, bukan yang pake nabuh gendang loh) itu sama saja halnya dengan mendengar suara kendaraan lalu lalang dijalan. Alami. Wajar. Yang gak wajar itu semacam saat punya stereo baru dgn sound system canggih segede gaban lalu langsung putar musik volume paling pol atau saat berpesta pasang music house hingar bingar sepanjang malam. Bisa budeg dah sayaaa ...

Yang pasti saya ini paling terganggu dengan bunyi2an yang konstan seperti air menetes netes dari keran yg tidak tertutup rapat yang meskipun tidak terdengar kencang tapi bisa bikin saya geregetan mendengarnya! Juga suara orang jedakjedok memaku atau mengebor tembok. Ngalamin nih, waktu itu di apartemen ada yang rempong ngerjain rumahnya. Maku maku, ngebar ngebor. Gak jelas juga dari lantai berapa tapi bunyinya nyaring di kuping sesiangan. Dua hari doang tapi cukup membuat saya gila.

Laaah, saya OOT lagi nih ...



Friday, January 08, 2016

Kerajinan Tangan


Beberapa hari belakangan saya merasa lagi rajin dan penuh semangat nih. Rasa kreatif mendadak muncul, rasanyanya ingin bikin-bikin sesuatu buat mengisi waktu luang. Kemarin-kemarin ada teman yang kasih lihat saya sjaal dari benang wool yang yang baru saja selesai dia kerjakan. Hasilnya standar ya, mirip-mirip dengan sjaal wool yang umum dijual di toko. Dia bilang caranya gampang gak perlu knitting, cuma modal tangan dan saya bisa liat tutorialnya di Youtube. Akibatnya saya jadi ter-inspirasi juga buat mencoba bikin sjaal dari wool sendiri *Mumpung lagi winter*. Sebenarnya sjaal yang saya miliki sudah lebih dari cukup dan warnanya lumayan bervariasi. Tapi toh gak ada salahnya nambah sjaal lagi dengan warna berbeda kan? Apalagi teman saya bilang gak perlu knitting. Kebeneran! Secara saya gak kepengen banget belajar knitting atau crochetting seperti itu.

Siang ini selesai jemput Griffin pulang sekolah mulailah saya browsing 'Arm Knitting' di Youtube. Saya cari tutorial yang paling simpel. Ternyata bener loh, cuma perlu modal benang wool dan kedua belah tangan/lengan kita saja. Setelah berulang kali melihat clip tutorialnya dan mengamatinya baik-baik, langsung lah saya beranikan praktek.

Gak perlu menunggu terlalu lama, sekitar 30 menitan kemudian ... Hhuuaaa, benang wool-nya kusut ditangan! Gggrrr!! Ternyata prakteknya tidak semudah kelihatannya. Atau barangkali saya yang memang kurang luwes, kurang terampil. Cukup sekali praktek dan saya menyerah! Hadeuuh, males aja mengulangnya lagi. Sebetulnya caranya mudah sih, tapi karena harus membuat loop yang dilakukan berulangkali dari satu lengan ke lengan yang lain-- ih, mata rasanya berkunang-kunang, loosing track. Liyeur, ah! Jadi saya berhenti dan kembali lagi-lagi mengulang clip tersebut.

Nah, gak sengaja, persis beberapa clip dibawah tutorial itu saya menemukan clip tutorial lainnya. 'HOW TO KNIT A SCARF USING A SHOE BOX'. Waaah, menarik! Sebenarnya clip ini berbahasa Jepang dan saya gak ngerti itu orang ngomong apa tapi toh gak ngaruh karena saya hanya perlu melihat tehniknya. OMG, yang ini sudah pasti jauh lebih mudah daripada Arm Knitting. Kotak bekas sepatu pun banyak! Buru-buru saya cari kotak sepatu yang tidak terpakai.


Dan setelah mengikuti instruksi awalnya, mulailah saya menganyam benang wool saya. Iya, saya sebut menganyam karena pekerjaan ini sebetulnya tidak tepat jika disebut merajut/knitting. Caranya betul-betul mudah. Saya menganyam dengan lancar jaya!
Kekurangannya cuma satu. Ternyata pekerjaan menganyam ini butuh waktu. Kapan selesainya yaa?? Clip-nya bohong banget deh bilangnya hanya dibutuhkan waktu 3 jam buat menyelesaikannya. Tadi saya memulainya sekitar jam 15.15 dan saat ini sudah jam 17.00 lewat tapi benang wool saya masih saja segelondong besar seperti tidak berkurang. Huh, saya kan masih harus masak buat makan malam, masih harus menemani si kecil mengerjakan latihannya, dan pekerjaan emak2 umumnya.


Yah, ternyata menganyam benang wool capek jugaaa! Tapi sisi baiknya pekerjaan ini bisa ditunda dan dilanjutkan lagi nanti-nanti. So, saya kesampingkan dulu kotak sepatu dan benang wool-nya diatas lemari. Tampaknya bisa saya lanjutkan sedikit nanti malam. Kalau belum selesai juga mungkin akan saya lanjutkan lusa karena yang jelas besok saya gak akan di rumah seharian.


Lusanya pekerjaan menganyam saya lanjutkan sesempat saya. Belum juga bisa diselesaikan! Besoknya lagi-lagi saya kurang punya waktu luang, akhirnya skip lagi satu hari. Hingga hari selanjutnya. Pekerjaan mudah, tapi jari jemari saya jadi sakit semuaaaa, hhuhuuhuhuu! Tapi lumayanlah benang wool-nya sudah terlihat mulai berkurang. Tapi masih juga belum bisa diselesaikan. Saya capek! Tapi lanjuuut .. karena tampaknya sudah hampir jadi nih!


Hingga akhirnya sedikit demi sedikit benang wool semakin menipis dan sjaal mulai terlihat bentuknya. Yaayyy .. Bahkan si kecil pun ikut senang karena sudah beberapa hari belakangan ia tahu kalo ibunya sering sibuk berkutat dengan benang wool.


Dan akhirnya pekerjaan saya selesai. Alhamdulillaah. Sjaal saya sudah jadi! Yes! Bagus kan? Mungkin gak spesial banget, tapi ini betul-betul kepuasan bathin. Sesuatu banget! Saya memulainya pada hari Jumat dan ini hari Rabu! Weh! Yang katanya bisa diselesaikan dalam 3 jam ternyata saya selesaikan dalam waktu 5 hari, wkwkwkk! Saya percaya sebenarnya mungkin kalo tidak bekerja dan tidak sedang repot saya bisa mengerjakannya lebih cepat nih, walau tentunya gak mungkin 3 jam, yaaa sedikitnya 1-2 hari. Maksimal 3 hari TOP.

Next time saya mau bikin warna yang lain aaah ..


Friday, April 24, 2015

Tetangga Bawah, Part 1.

Saya masih ingat masa sekitar 2,5 tahun silam saat baru saja pindah ke apartemen kami yang sekarang. Kami menempati apartemen dilantai 5. Dibandingkan dengan apartemen kami yang sebelumnya, apartemen ini 2x lebih besar ukurannya. Dan perabotan kami yang (saat itu) tidak terlalu banyak menjadikan rumah ini terasa sungguh lapang. Terutama jika memiliki cowok kecil usia 3 tahun yang super energetik. Sungguh gak ada capeknya si kecil lari kesana kemari atau berloncatan di sofa, dsb. Pada periode itu kami sedang sibuk2nya bebenah dan menata rumah, oleh karenanya si kecil yang super aktif ini kadang sungguh bikin sakit kepala dengan segala kegaduhannya dan mainannya yang bertebaran di sana sini.

And you know what, belum juga genap satu minggu kita tinggal disini dengan kondisi rumah still in a big mess, suatu sore ada seseorang mengetuk pintu depan. Ternyata tetangga kita persis di unit bawah- si istri- datang buat mengeluhkan suara2 berisik dari lantai kita. Kita jelaskan bahwa kita memang punya anak kecil yang (kita sadari sendiri) sungguh aktif berlarian dan berloncatan didalam rumah meskipun sudah bolak balik kita peringati agar bisa lebih tenang, tidak berlarian dan berloncatan. So, we said sorry to her.
Malamnya setelah makan malam saat Griffin tengah asyik bermain, kita dengar ubin diketuk2 dari bawah. That was the beginning of their annoying code! Sejak saat itu setiap kali mereka merasa terganggu dgn bunyi2an dari lantai kita, mereka mulai mengetuk-getuk dari bawah. Sesungguhnya ini lebih terdengar mengganggu dikuping ketimbang mendengar suara atau keributan yang dibuat Griffin. *Rasanya pengen banget nih nabokin mereka!*

Beberapa hari kemudian disekitar jam 7 malam tetangga bawah kembali datang mengetuk pintu. Kali ini si suami yang datang mengeluh karena (same old story) mendengar Griffin nonstop berlarian dan berloncatan hingga terdengar keras dari unit mereka. Again, we only said the same excuse, the same explanation, and said sorry.

Idiiiih! Saya ini jadi emosi banget sama ini tetangga! Nggak perlu laaah bolak balik komplen! Memangnya kita sendiri didalam rumah gak denger? Memangnya kita membiarkan? Memangnya kita gak pernah ngebilangin anaknya? Emangnya kita ortu apaan?

Oh ya, tetangga bawah kita ini pasangan yang entah sudah menikah atau cuma samen wonen (not my problem) dan mereka tidak memiliki anak. Dan yang menurut gue toleransi mereka itu cetek banget!  Kalo kegaduhan (terutama berulangkali/setiap saat) yang ditimbulkan kita orang dewasa, saya bisa mengerti bisa menerima kalo mereka kesal. Lah, ini ulah anak kecil! Sadarilah bahwa kita juga menyadari dan kita pun agak kesal kalo yang kecil ini gak bisa diam walau sudah berkali kali diterangkan. Anak 3,5 tahun bok! Emangnya saya harus ikat anak saya biar dia diam dan gak berlarian?? Dasar tetangga begoooo!
Saya juga sering kok dengar suara gerabak gerubuk anak2 berlarian dan berloncatan di lantai atas dan jelas2 ditimbulkan oleh lebih dari satu orang anak. Kadang gak cuma sebentar. Dan berisik gak? Tentu saja terdengar agak berisik dari tempat saya yang berada tepat dibawah unit mereka. Memang berisik, tapi kita tidak merasa perlu komplen keatas. Gak merasa perlu ketok2 plafond buat kasih mereka kode biar gak berisik. Yaaa, namanya anak2 kalo mainnya agak ribut mah lumrah. Anak2 dilarang bikin ribut ya susah!

Selama seminggu setelah si suami datang komplen ke rumah- tetangga bawah masih cukup sering ketok2 ubin kita- hingga suatu sore sekitar sebulan setelahnya, si istri datang lagi ketok2 pintu kita. Iya, mau komplen lagi. Kali ini saya persilahkan dia masuk. Well, mungkin dia juga penasaran mau melihat si kecil tukang berisik ini. Dan untuk yang kali ini saya gak mau repot2 minta maaf. Dia harus tauk bahwa saya ini ortu yang peduli dengan anak, yang berusaha menerangkan mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Saya tidak membiarkan saja anak2 saya bermain dengan kacau tanpa saya awasi dan peringati. Sejujurnya saya mengharapkan agar mereka (tetangga bawah ini) lebih bisa toleransi.
Saat masuk kedalam saya lihat tetangga saya agak terdiam. Hahaa, mungkin dia baru lihat sendiri sekarang kalo rumah kami itu masih sungguh lapang, belum banyak perabot, dan masih lumayan banyak kardus2 berjejer di dinding. Ruang duduk kami sungguh plong! *Iya kami memang nyantai banget, udah hampir 3 bulan rumah belum juga diisi dan ditata. Makanya si kecil senang berlarian didalam rumah, maklumlah gak punya pekarangan.*
Setelah sejenak melihat-lihat kedalam akhirnya tetangga permisi pulang tanpa banyak bicara lagi selain minta maaf sudah ngeganggu kita. *Right!* Sepertinya saat itu logika nya sudah mulai nyambung, mulai paham mengapa dari bawah terdengar berisik. Iya laah, secara kita kan belum lama pindah kemari dan ruangan kita saat itu masih lapang2 tanpa banyak perabot besar dan tentunya lantai lebih mudah bergetar dan menimbulkan gema suara yang lebih keras ke lantai dibawah kita. Dan setidaknya tetangga udah melihat sendiri kalo si tukang berisik ini cuma cowok kecil manis yang aktif kebanyakan energi, bukannya anak bandel yang gak bisa diatur.

Aaaasss sutralah!
Kalo mereka masih hobi ketok2 lagi dari bawah, saya telpon polisi nih! Grrr ..



Monday, March 30, 2015

Es Krim 150 euro


Negara Belanda itu melegalkan pemakaian ganja. Saya kurang jelas juga bagaimana aturan selengkapnya, yang saya tahu orang2 tidak boleh menanamnya sendiri di rumah, namun orang2 dapat membeli dan mengkonsumsi ganja ditempat yang disebut dengan istilah Coffee Shop. Hanya didalam Coffee Shop itulah penikmat ganja dapat sepuasnya menikmati ganja. Indoor. Jadi ganja terlarang buat dihisap diluaran, dijalanan, atau di tempat2 umum selain di Coffee Shop. Coffee Shop sendiri sebetulnya mirip2 dengan Bar atau Pub. Bedanya hanya di Coffee Shop kita bisa memesan ganja ataupun mushroom. Jadi istilah Coffee Shop sebenarnya hanya buat membedakannya saja.

Khususnya di Amsterdam Coffee Shop bertebaran dimana-mana. Banyak! Bahkan ada juga Musium Marijuana yang menurut saya nggak penting banget buat dikunjungi. Yep! Kalo buat saya pribadi lebih baik berkunjung ke Coffee Shop nya saja langsung. Seandainya saya 20 tahun lebih muda ada kemungkinan bisa setiap weekend saya 'nangkring' di Coffee Shop. *kidding!*


Selain Coffee Shop disini pun banyak toko2 yang menjual produk2 makanan, minuman, permen, dan sebagainya yang mengandung ganja. Melihat macam2 produknya dari luar etalase tokonya saja sudah cukup membuat saya pusing kepala. Harganya juga variatif, tapi sepertinya tidak mahal kok. Tampaknya hampir segala jenis makanan atau minuman bisa diproduksi dengan campuran ganja. Tapi rasa dan efeknya bagaimana  jangan tanya saya karena selama disini saya belom pernah tertarik mencobanya. Hingga suatu hari ....

Suatu hari saya kedatangan teman saya dari Jakarta. Seperti biasanya jika ada teman datang, menemani jalan2 dan berkunjung ke daerah RedLight adalah hal wajib *Halaaah*. Dikunjungan teman2 yang sebelum2nya saya betul2 hanya menemani mereka termasuk saat berkunjung ke toko produk ganja. Namun kali ini mendadak saya tertarik juga mencoba eskrim ganja rasa stroberi. Ini beneran cuma mencoba alias nyicipin lhooo, secara sebenarnya seorang teman saya lah yang membeli buat kita bertiga cicipi ramai2. Pesan hanya satu scoop (minta sendoknya 4 biji!) yang ternyata harganya cuma 2 euro. Murah! Dan eskrim pun kita nikmati bareng2 sambil meneruskan jalan2 kita. Rencananya teman saya ini mau mencari oleh2 souvenir, so, dimulailah perjalanan kita keluar masuk toko souvenir.

Entah karena kita excited sedang menikmati eskrim ganja atau memang seperti inilah efek yang ditimbulkan, jalan menjadi terasa ringan dan sepanjang jalan pun rasanya ceria sekali. Hingga akhirnya saya melihat kantung ransel teman saya terbuka. Secara di centrum Amsterdam banyak copet, saya jadi agak khawatir kalau2 teman saya ini kecopetan. Setelah di check ternyata memang benar dompet uangnya raib! Ov-chipkaart, uang receh2, dan uang 150 euro yang baru tadi pagi dia ambil dari ATM pun lenyaplah sudah. Terlalu! Memang bukan saya yang kecopetan tapi saya juga ikut merasa kesal karena saya tidak melihat kejadiannya, padahal saya yang paling sering berjalan dibelakang mereka. Untungnya dompet tempat kartu2 penting ia pisah dan ia letakkan didasar ransel.  Duh, bayangin, kehilangan paspor, surat2, atau kartu2 penting tentunya lebih bikin ribet buat mengurusnya- apalagi disaat ia sedang jadi turis di negara asing.

Akibatnya teman saya kapok. Menurutnya eskrim ganja membuatnya jadi tidak waspada. Hehehee, jadi nyalahin eskrim. Tapi menurut saya efek eksrim tersebut berbeda pada tiap2 orang. Pada orang yang sudah biasa mencoba ganja dan pada orang yang belum pernah mencoba ganja. Jaman badung dahulu kala saya biasa menghisap ganja, jadi efek eskrim yang saya rasakan (apalagi hanya satu cup dinikmati bersama) hanya membuat saya lebih rileks. Enjoy. Anteng. Happy secukupnya. Ujung2nya membuat saya mengantuk (bukan membuat lapar). Sementara pada teman saya efeknya membuat mereka cekikikan gak jelas dan terlalu rileks. Dan tentunya faktor nasib sial juga ya? Tapi memang siapa yang gak emosi jiwa kalo harus beli satu cup eskrim seharga 150 euro lebih??

Nasib!




Friday, February 27, 2015

Apartemen Lift

Disini kami tinggal di sebuah apartemen 6 lantai. Kami sendiri tinggal di lantai 5 dengan 3 unit (tetangga) lainnya. Unit kami cukup luas dengan 3 kamar tidur, ruang duduk, dan ruang makan yang cukup lapang. Sebenarnya saya ini tidak suka tinggal di gedung tinggi meskipun cuma dilantai 5, namun karena susahnya mencari rumah 'normal' di Amsterdam yang bisa dikontrak dan tidak muahal, terpaksalah kami tinggal di apartemen ini. Rumah biasa dengan halaman depan/belakang akan lebih nyaman untuk anak2 bermain. Akses keluar masuk rumah pun tentunya lebih cepat, tidak tergantung tangga maupun lift. Nah, tentang lift inilah sebenarnya yang mau saya ceritakan.

Apartemen kami memiliki sebuah lift dengan kapasitas maksimum 8 orang dewasa. Walau sebenarnya bersama 5 orang dewasa didalam lift terasa sudah cukup sesak. Tipe lift standar-- tidak bagus dan juga tidak jelek. Meskipun ada 2 buah sarang lampu dengan lampu neon didalamnya, sejak pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya disini hanya ada 1 buah lampu saja yang kelihatannya 'resmi' selalu menyala. Jadi ya begitu, dengan dinding stainless abu2 tua lift terasa terang tapi tidak ceria.

Beberapa bulan lalu managemen gedung mengumumkan bahwa dalam 7 hari kedepan lift tidak bisa digunakan untuk alasan 'Maintening & Modernisasi'. Urusan maintening lift sudah hal biasa, umumnya hanya butuh waktu seharian. Nah, kali ini selama seminggu! Dan para penghuni diharapkan menggunakan tangga selama satu minggu itu. Mak! Olah raga banget itu, secara di hari2 biasa saya bisa naik turun lift 8 kali dalam satu hari. Rutin. Dari lantai 5, nyet! Yah, sebenarnya kita yang masih sehat alhamdulillaah beruntung masih bisa bolak balik naik turun tangga meskipun udahannya kaki terasa tremor. Sedihnya ada pasangan sepuh yang tinggal di lantai 2. Sang suami sudah harus selalu menggunakan kursi roda kemanapun. Sang istri biasa menggunakan walker. Setiap dua hari sekali mereka biasa jalan2 diluar dengan sang istri mendorong kursi roda sang suami (jadi ia sendiri tidak butuh walker). Akibatnya selama seminggu itu mereka terpaksa diam dirumah. Hhh, zielig .. 

Meskipun pegal kaki dan pegal kuping mendengar anak2 yang kadang selalu menggerutu ditangga, saya cukup bersenang hati, berpikir positif, bahwa 'maintening & modernisasi' ini nantinya toh untuk kebaikan kita para penghuni. Pastinya lift akan lebih terang dengan lampu baru, dan akan lebih indah dan terlihat lebih lapang dengan dinding cermin-- setidaknya dengan cermin disalah satu sisi dinding lift. *ngarep*

Daaaann seminggu yang menyiksa pun berlalu. Di pagi hari saat saya berangkat dan pulang mengantar anak sekolah lift masih belum dapat digunakan. Tapi siangnya lift sudah bisa digunakan. Yes! Saya penasaran. Ting! Pintu lift terbuka. Saya pun masuk sambil mengamati interior lift. Bah! Lift ini seminggu ditutup apanya yang dimodernisasi yak?? Lampu diatas masih sama, hanya satu lampu yang menyala. Tidak ada mirror mirror on the wall. Aaaah, daya khayal saya ketinggian. Setelah saya amati ternyata cuma panel dan tombol2 lift nya saja yang diganti agak lebih besar dengan lampu oranye disekitar tombol jika ditekan. Udah. Gitu aja.

Uh! Rasanya mendadak jadi ingin berbuat brutal di lift. Ingin pecahkan lampu dan getok2 dindingnya saja sekalian sampai penyok. Siapa tau nanti diganti dengan yang beneran bagus. Ahhaa ..
Tapinya Alhamdulillaaahh sih, akhirnya gak perlu naik turun tangga lagi.

Horeee!!




Friday, November 28, 2014

Ditahan Polisi!


Sekitar jam 7 malam seperti biasanya saya di rumah masih ngerjain ini ngerjain itu. Kita baru aja selesai makan malam tanpa si anak gadis, Nina, yang tadi siang bilangnya pulang sekolah mau main dulu sama Alexa temannya. Bilangnya mau balik jam 6 sore, tapi mana anaknya?? Sementara suami tumben udah dirumah dari tadi sore.
Baru saja saya duduk manis telepon saya bunyi. It was Nina.

Saya : Heeehh .. Bilang mau balik jam 6 sampe jam 7 lewat gini belum nyampe rumah!
Nina : Mami, aku di kantor polisi!
Saya : What??! *Nyaris keselek lidah sendiri*
Nina : Aku sama Alexa lagi di kantor polisi, mami!
Saya diam, kaget, ambil napas, mungkin saya salah denger.
Nina : Alexa ketauan ngambil parfum di DS (A Shop) jadi sekarang kita di kantor polisi.
Saya ambil napas lagi sambil melirik suami. Shock! Ini hal yang tidak pernah saya bayangkan bakal terjadi pada anak gadis saya.
Saya : Trus kamu ngapain dikantor polisi? Kamu nyolong jugaa??? Agaknya kepala saya mulai berasap.
Nina : Beneran mami, aku gak nyolong! Itu Alexa! Aku disini buat dimintai keterangan, ikut ditanya2, karena aku kan temannya dan aku juga disitu saksi .. Aku laper nih mami, udah 1 jam disini. Aku belum makan!
Saya : Ini di kantor polisi mana?
Nina : Gak tauk dijalan apa, tapi ini didekat Vondelpark.
Saya : Trus kenapa udah dari tadi tapi baru telpon sekaraaaaangg?? Kamu ditahan didalam sel? *Hhhh, bikin histeris aja ngebayangin dia ditahan didalam sel bersama para begundal dan pemabuk*
Nina : Aku baru bisa telpon sekarang! Kita ditarok diruang interogasi terpisah, bukan sel, disuruh tunggu lamaaaa banget .. Mereka lama banget tanya2 Alexa, abis itu polisinya dateng tanya2 aku.
Saya : Malu2in aja sih sampe dibawa ke kantor polisi! Trus mami disuruh ngapain sekarang??

Saya udah beneran naek darah. Suami datang ambil alih telpon, gilirannya bicara dengan Nina. Saya udah jengkel campur panik. Parno. Nggak kebayang dia bisa2nya nyangkut di kantor polisi. Dulu saya juga badung. Asli badung. Tapi gak pernaaaaah urusan sama polisi! Paling2 sama guru dan dosen! Saya jadi nginget2 si Alexa. Kelihatannya dia pun bukan anak bandel. Kenapa dia berani nyolong?? Haduh terus ini urusannya gimana?

Akhirnya suami selesai bicara dengan Nina ditelepon.
Suami : Saya kesana sekarang, jemput Nina.
Saya : Anak itu bilang apa?
Suami : Udahlah saya kesana dulu. Nanti aja ceritanya.
Saya : Tapi memang dia gak nyolong kan?
Suami : Nina bilang dia dianggap terlibat karena dia teman Alexa dan karena dia tahu Alexa mencuri tapi dia membiarkan. Saya kesana sekarang.

Oooohhh, senewennya dirikuuuh. Anak gadis ditahan dikantor polisi! Di kantor polisi di Amsterdam pula! Kebayang polisinya gede2 semua. Brrr .. Malunya itu loh! Saya membayangkan polisi bikin photo profil dia buat record polisi blablabla, dsb. Hhhiiiss, soalnya jadi keinget jaman esempe. Waktu itu saya berteman akrab dengan Effi dan kita sering ngelayap kesana kemari termasuk jajan di supermarket (Maap deh, jaman dulu belom banyak pilihan tempat ngelayap, belom bisa nyetir, gak maok juga ngabisin duit buat ongkos naik bus jauh2). Suatu ketika saat kita sedang disebuah supermarket besar saya liat dia digiring sekuriti ke ruang sekuriti dan tentunya itu berarti dia bikin masalah. Memang bukan di kantor polisi, tapi itu pun sudah cukup membuat saya deg2an nunggu dia diluar sekuriti karena saya kan masih lima belas taun! Saya lihat dari jendela kaca diruang itu dia di photo polaroid yang hasilnya langsung dipasang di softboard diruangan itu diantara banyak photo2 closeup orang lain. Alamak! Udahannya saya baru tahu kalau dia ngembat 2 batang coklat merek yang pada masa itu populer dan agak mahal. Effi bilang karena dia dibawah umur dan barangnya pun hanya coklat dia cuma didenda bayar 3x lipat harga coklat itu. Ampun deeeeh ini anak padahal duitnya buat bayar denda aja masih sisa lebih banyak dari duit yg ada dikantong saya saat itu! Hhhhh ...

Iya tapi ini sekarang masalahnya si Nina yang dikantor polisi. Doh! Udah hampir jam 9 malem belom ada kabar juga! Anak dan bapak ditelpon nggak ada yang angkat. Gimana ini? Saya bahkan hampir lupa nyuruh yang kecil gosok gigi dan pergi tidur. Tapi gak berapa lama kemudian suami telpon.

Saya : Kok lama banget sih? Nina gak ditahan kan??
Suami : Ada yang kelupaan. Si Nina ini gak bawa ID kaart, jadi saya harus pulang lagi. Kamu tolong deh cariin ID kaart Nina dikamarnya.
Saya : Hah? Kenapa gak dari awal bilang suruh bawa? Gimana sih Nina ...
Suami : Bukan si Nina yang salah. Polisinya baru nanyain sekarang nih. Aku juga dari tadi nunggu lama diruang tunggu.
Saya : Goblok banget itu polisi. Ngerjain banget! Harusnya dari awal mereka telpon kita bukan nahan anaknya duluan. Pake lupa nanyain ID segala! Bikin orang bolak balik. Trus mau sampe situ lagi jam berapa kalo kamu mesti balik lagi kemari ambil ID kaart??  [Saya sewot. Asli. Polisi kok gak profesional! Anggota baru ya?]
Suami : Ya udah cari dulu ID nya, siapin aja.
Saya : Nina gimana?
Suami : Nanti aja ceritanya.

Belum 5 menit suami telpon lagi.
Suami : An, tadi aku telpon Angelo minta tolong dia ambil IDkaart Nina. Sebentar lagi dia sampe situ.
Nah, bagus juga idenya. Angelo itu anak teman suami yang tinggalnya gak jauh dari rumah kita. Usianya sekitar 20 tahun. Dan benar kata suami, gak berapa lama kemudian dia datang dengan broomer (motor)nya. *Haduh makasih banget ya Angeloo* Dan saya kembali deg2an menunggu kabar dari mereka.

Jam setengah 12 lewat sedikit suami dan Nina akhirnya sampe rumah. Angelo ngikut! Yaelaah, udah siap2 mo ngomelin Nina jadi mesti agak ditahan dong nih. Jaim.
Saya : Loh? Kamu daritadi memangnya ikut nunggu disana?
Angelo : Iya enggak apa2 saya mau kok nungguin, siapa tahu saya diperlukan lagi. *Haiyaaah, pasti sebenernya dia penasaran ada apa gerangan*
Saya ngomel ke Nina : Tuh! Untung papi ada dirumah dan ini hari Jumat. Coba kalo papi tadi gak dirumah- mami biarin kamu semaleman di kantor polisi! Si Alexa gimana tadi? Dia masih disana apa udah boleh pulang?
Nina : Iya dia nangis2 sampe mukanya bengkak! Tadi mamanya datang gak lama sebelum papa datang. Dia keluar lebih dulu, gak lama kemudian aku. [Nina langsung nyelonong masuk kamarnya. Ih, katanya dia belum makan!]
Saya : Heh, mau kemana? katanya kamu laper belum makan.
Nina :  Udah lewat. Aku capek mami, mau tidur aja, tadi papa udah bawain roti.
Saya tanya suami : Trus kena boete (denda) gak? Di photo gak?
Suami : Ya enggak lah, dia kan masih dibawah umur. Senin besok pulang sekolah Nina dan temannya mesti ke blablabla (saya lupa itu nama instansinya apa ya?- untuk diberikan semacam advies dan hukuman kerja sosial buat anak dibawah umur yg melakukan pelanggaran) sebanyak 3 kali. Nanti jadwalnya dikirim.
Saya : Lho kenapa Nina ikut dihukum? Katanya dia cuma sebagai saksi?
Suami pasang muka rolling eyes : Itu kata dia ke kamu. Memang dia tidak mencuri. Tapi kepada polisi akhirnya dia ngaku kalo dia nolong temannya buat mengawasi sekitarnya. Jadi termasuk kaki tangan pelaku. Oh, tidaaak ..
Saya : Kalo dia sampai masuk di record polisi berati dia blacklist! Ya ampun, gimana dia besok2 bisa dapet sekolah dan kerja yang bagus kalo dia udah blacklist?? Mikir gak sih si Nina ini? [Saya jadi makin senewen dan mikirnya jadi makin jauh.]
Suami : Nggak sampai masuk blacklist dong dia kan masih dibawah umur makanya hanya diminta untuk datang buat advies dan melakukan kerja sosial sebagai hukuman. Tapi mungkin ini jadi masalah yang beda kalo Nina udah diatas 18 tahun.
Saya : Kerja sosialnya disuruh ngapain?
Suami : Ya nggak tauk .. Kita denger aja dari si Nina Senin besok.
Saya : Tapi kalo beneran tercatat di polisi berarti masuk ke system dong. Bener ini gak pengaruh ke record Nina? [Saya masih parno.]
Angelo yang menjawab : Ya enggak lah, relax, teenage banyak kok yang pernah ditahan polisi karena melakukan pelanggaran bukan cuma Nina.
Saya : Emang kamu pernah?
Angelo : Enggak .. *plaak!* [Please, deh]

Uh, capek! Malam yang panjaaaang ...
Buntut2nya inget liat jam ternyata udah jam setengah 1 pagi! Ah tauk deh, gelap! Segelap jam setengah 1 pagi ini. Saya masuk kamar, membiarkan suami dan Angelo melanjutkan ngobrol. Tidur ah. Saya capek, ngantuk, dan pusing kepala.

I will deal with you tomorrow, Nina!


Sunday, October 12, 2014

Turis, Traveller, & Fashion


Buat saya ini tinggal di negara yang jauh dari kampung halaman itu paling seneng banget kalo ada famili atau kenalan dari Indo yang datang. Jangan kan kedatangan famili atau kenalan, dijalanan pun kalo ketemu atau melihat turis asal Indo yang saya gak kenal pun, hahaha, suka senang hati melihatnya. Iya, serius. 
Dan setelah lama tinggal disini saya jadi bisa membedakan yang mana turis dan yang mana yang bukan. Yang terlihat saling ngobrol dalam bahasa Indonesia belum tentu turis. Yang terlihat photo disana dan photo disini belum tentu turis. Yang terlihat sightseeing tanpa membawa ransel atau koper pun belum tentu turis. Yang terlihat membawa banyak jinjingan kantongan butik pun belum tentu turis.  
Jadi bagaimana dong membedakannya?  Hahaa, sebenarnya saya gak punya definisi yang pasti buat membedakannya. Dan gak perlu juga repot-repot membedakan yang mana yang turis dan mana yang bukan, hehhee. Tapi naluri saya umumnya selalu jitu buat membedakan mereka. Kesimpulan paling gampang, biasanya sih yang jalannya nyantai-nyantai dan yang matanya celamitan melihat sesana kemari, ke kiri ke kanan, keatas, mengamati sekitarnya dengan kamera selalu dileher atau ditangan itu jelas 95% pasti  turis.  

Pernah terjadi ada satu hal lucu saat saya bertemu dengan seorang turis cowok asal Indonesia. Saat itu saya sedang berdiri bersandar diseberang jalan sebuah toko yang menyediakan produk-produk Asia. Teman saya sedang berbelanja didalam toko itu. Setelah beberapa saat dari toko itu keluarlah segerombolan orang yang sudah pasti deh orang Indonesia semua. Tiba-tiba diantara mereka (cowok) ada yang teriak sambil menunjuk kearah saya, "Eeeh, ada orang Indonesia! Orang Indonesia ya, mbak? Orang Indonesia kan??" teriaknya rame banget sambil cengar-cengir. "Tinggal disini ya mbak?", tanyanya lagi. Teman-temannya jadi ikutan cengar cengir sambil melihat kearah saya. *Duh! Pake TOA aja sekalian mas, biar orang satu jalanan denger, heehhe.* Saya jadi ikutan nyengir sambil mengacungkan jempol tangan. Ini orang udah pasti seorang turis penggembira asal Indonesia. Saya sudah khawatir mereka akan menyeberang kearah saya, tapi untungnya ada teman mereka yang menunjukan arah jalan yang berlawanan dengan tempat saya bersandar. Cowok itu teriak lagi, "Enak ya mbak disini. Fun banget!", katanya.  "Okee, mau lanjutin jalan nih mbak, sampe ketemu lagi ya, have a nice day mbak!" Ia dan beberapa temannya melambaikan tangan. Saya pun membalas lambaian tangan mereka sambil merasa harus bilang, "Met jalan-jalan yaaa .. Jangan kesasar! Hati-hati copet!". Jarang-jarang banget ada orang friendly seperti itu, turis atau pun bukan turis.

Sebenarnya yang mau saya tulis disini mengenai ketakjuban saya pada turis-turis asal Indonesia masa kini. Maksud saya turis-turis yang kekinian. Yang saya amati banyak diantara mereka khususnya yang fashionista (perempuan dan banyak duit tentunya) itu tampil bukan main kerennya. Pastinya sih lebih untuk keperluan tampil di photo. Banyak yang pake jaket keren tebal isi bulu bebek ber-merek (meskipun sebenernya bukan sedang winter) lengkap dengan sepatu boot keren sedengkul. Yaa, yang bukan turis pun ada juga sih yang tampil demikian  (tapi sejujurnya saya malah jarang liat bule-bule yang tampil keren dengan coat dan boot sedengkul ber-merek cuma buat seliweran jalan-jalan layaknya turis). 
Saya penasaran. Bagi turis Indonesia yang kekinian seperti itu sebenernya seberapa sering mereka bisa menggunakan koleksi coat dan boot (sedengkul, bok) semacam itu di Indonesia ya? Kalau jawabannya coat dan boot itu digunakan hanya untuk saat mereka liburan ke LN, trus seberapa sering kah mereka vakansi ke negara empat musim dalam setahun? Hhuuuaaa ....  

Saya punya teman disini yang kenalannya dari Indo pernah liburan selama 2 minggu disini. Dalam 2 minggu itu saya amati photo-photonya (via FB, ofcourse) dia berganti 3 macam coat tebal berbeda dan 3 macam jenis sepatu (1 sneaker dan 2 pasang boots) keren. Saya tahu pasti itu bukan dipinjam dari teman saya. Ampun deh saya yang gerah ngebayangin masalah koper dan packing-nya! Rempong amat sih?? Lagipula memiliki 3 coat tebal (yang saya lihat cuma 3 kan?) tapi tinggal di Jakarta buat apa juga ya? Sepatu boot sedengkul buat dipake kemana coba? Gerah mak!
*Ah, terserah deh, duit- duitnya dia, tenaga- juga tenaganya dia .. heuheuheuu*

Saya juga punya seorang teman yang sudah pernah melancong ke banyak banget negara-negara di dunia. Seingat saya ia sudah pernah hinggap disetidaknya di 4 kontinen- tampaknya hanya Afrika yang belum (menurut saya ini sudah sungguh hebat!). Buku passpornya selalu mirip komik bergambar, penuh dengan stiker dan stempel. Passpor bekasnya pun sudah berbuku-buku. 
Dalam satu tahun ia bisa melancong ke 4 atau 5 negara, yang tiap kalinya gak pernah kurang dari 2 minggu. Serius. Backpack. Pergi sejauh dan sebanyak mungkin dengan dana sesedikit mungkin- walau sebenarnya dia gak perlu ngirit. Saya senang melihat photo-photo nya di FB saat ia berada di berbagai negara, kota, dan tempat. Photo-photo nya tidak melulu di tempat-tempat yang indah ataupun tenar di negara tersebut. Dan ia-pun tidak selalu tampil di photo. Hahaa, jadi gak bosen juga liat tampang dia melulu di photo. Kadang karena terlalu rutin posting photo-photonya setiap hari selama dia bepergian, jadi saya yang suka mikirin dia ini kapan pulangnya? Yang menariknya dari sebanyak itu photo-nya diberbagai negara saya perhatikan coat yang ia punya hanya ada 3 macam. 2 coat yang tebal dan 1 wind breaker. Buat dia punya segitu cukup. Sepatunya kalau gak pake sneaker biasanya ia pake hiking boot.  Jadi yang dipakainya tergantung musim dan tempat di negara yang akan ia kunjungi. Tidak semua coat dia bawa. Ringan dan praktis. Tampilan gak penting, tempat tujuan dan petualangannya lebih penting. 

Seleb Indonesia semacam si "Putri" yang suka heboh pamer kalau ke LN itu bisa disebut sebagai Turis. Memang tidak semua turis asal Indonesia tampil seheboh si Putri ini ya. Tapi untuk teman saya yang satu ini saya nggak bisa menyebutnya sebagai turis. She is a traveller! A real traveller!
Jadi saya punya kesimpulan sendiri buat membedakan antara Tourist dan Traveller. *Wink!*

Iya, maaf, lagi-lagi ini sebuah postingan yang gak penting karena saya memang suka ngomongin hal-hal gak penting kan?






Friday, August 08, 2014

Komentator Film Horror!


Posting gak penting lagi nih :
Saya ini hobby banget nonton film! Yah, selama itu bukan film drama atau film perang saya biasanya mau nonton. Tapi yang pasti saya paling suka film2 ber-genre horror atau thriller. Yang mencekam dan mendebarkan gitu loooh. Sepertinya hampir semua film horror/thriller terbaru atau yang lama- yang ngetop ataupun tidak ngetop sudah saya tonton semuanya- small budget film yg orang bilang jelek pun buat saya oke2 aja selama akting aktornya gak terlalu ancur dan selama special efeknya gak terlalu terlihat nipu. Seriously. Biasanya sih saya nonton film yang ecek2 hanya kalau sudah gak ngerti mau nonton yang mana lagi. Cuma ya gitu yaaa, film horror yang manapun umumnya selalu punya masalah yang sama. Dan penonton seperti saya sering dibuat gregetan karenanya. Gatel pengen komentar! Tapi teteeeeup hal itu tidak membuat saya berhenti nonton yang seram2 dan yang tegang2.

Beberapa hal yang sering gak masuk akal yang bikin gregetan pada film horror itu seperti ;
1. Adegan saat si tokoh sedang sendiri lalu merasa ketakutan- atau merasa mendengar sesuatu. Biasanya nih yaaa dia itu bakalan penasaran trus berusaha nyari2 sendiri sumbernya walaupun sebenernya dia ketakutan. Lalu berjalan mengendap-endap tanpa merasa perlu menyalakan lampu. Kadang filmnya memang didramatisir, adegan listrik dibuat mati jadi mesti gelap2an (kadang bisa juga sih adegan outdoor malam2). Mbok ya kalo feeling emang udah gak enak dan udah ketakutan ya nggak usahlah penasaran gak perlu di cari2 apalagi sendirian. Dalam gelap pula. Biasanya yang ada malah jadi ketemu hantu/monster atau dibunuh penjahat deh tuh.
2. Adegan saat si tokoh sedang dikejar oleh penjahat atau monster. Saya mah kalo ada yang ngejar ya udahlah ngibrit aja sekencangnya gak usah pake acara bolak balik nengok kebelakang. Fokus liat kedepan! Iya kan? Biasanya dalam film itu udah tauk sedang ada yang ngejar tapi dia tetap lari sambil bolak balik liat kebelakang, trus kesandung deh dia, trus ketangkep deh .. mati deh! Ggrrr ...
3. Nah! Kadang setelah kesandung dan jatuh si tokoh mendadak nggak bisa bangun-- biasanya diteruskan dengan ngesot2. Padahal dia gak terluka. Oke anggaplah kakinya kecengklik. Hhhuua, menurut saya dalam keadaaan hidup mati dikejar penjahat atau monster harusnya seberapapun sakitnya kita jatuh ya abaikan saja. It's about to do whatever to survive! Selama gak ada bagian dari kaki yang patah atau remuk masa sih gak bisa bangun?? Bulls*** ... Aargghh!
4. Dikejar penjahat atau monster malah lari ketempat sepi dan gelap! *Dziigh!* Ini males deh komentarinnya. Haduuh sutradaraaa, mbok agak masuk akal dikit dong kalo kasih adegan. Lain halnya kalo saat adegan itu dilakukan diperkebunan yang jauh dari keramaian. Sering ada tuh adegan malam2 dikejar penjahat, di kota besar pula, eh dianya malah lari ngumpet ke gang yang sepi. Nggak pake teriak keras2. Ogeb banget kan, ya? Itu namanya bukan cari (si)selamat tapi malah cari lucifer. *Kiasan, bok*

Trus adegan apa lagi ya? Hhhmm .. Oh iya!
5. Si tokoh yang perempuan seringnya kurang perlawanan saat diserang. Lho, namanya juga urusan antara hidup atau mati harusnya usaha semaksimal mungkin buat melawan. Jarang terjadi melihat mereka melawan menggunakan kakinya. Padahal kaki itu bagian tubuh yang paling kuat, seharusnya dimaksimalkan buat menendang. Jadi kalo melawan cuma dengan memukul pasti urusan gancil buat si penjahat. Cari dong benda2 berat atau tajam disekitarnya yang bisa digunakan buat melawan.

Saya sering nih diketawain suami gara2 saya tukang komentar kalo sedang nonton. Dia cuma ngomong, "Kamu tuh berisik ya. Mungkin adegan itu memang disengaja sutradara biar lebih menegangkan". Gitu.
Aaargghh, menurut saya itu bukan adegan menegangkan- karena terlihat mengganggu kealamian naluri seseorang buat survive. Trus suami menjawab lagi, "Iya kamu ini menganggap naluri kamu buat survive sama ke orang lain, padahal mungkin gak semua perempuan punya naluri survive yang sama dengan kamu. Kalo saya penjahat, suwer, saya gak berani sama kamu deh. Dan ini cuma fileeeemm .. Kalo kamu ngomong terus gimana saya mau nonton??".   Haha, saya jadi nyengir dengernya.
Oleh karena itu suami saya itu sebisa mungkin menghindar kalo harus nonton film bareng saya. Karena saya ya begitulah, berisik, ngomong dan komentar di tengah2 film, terutama kalo nonton film yang menegangkan. Doh! Itu sebabnya saya gak suka film drama, pasti lebay gak menegangkan- bikin ngantuk.

Ma'ap ya, ma'aaaap .. Saya emang udah dari sononya begini.
 

Tuesday, July 08, 2014

Unit Gawat Darurat



Sesiangan ini setelah kerjaan dirumah semua selesai saya iseng jalan2 sendiri ke pertokoan. Ada sesuatu yang mau saya cari. Namun sampai sekitar jam 2 lewat saya belum mendapatkan benda yang saya cari. Ya sudah gak apa gak ketemu, saya harus balik karena udah hampir waktunya jemput si kecil di sekolah.
Jam 3 kurang sepuluh menit saya sudah sampai di sekolahan. Saat masuk pekarangan sekolah dan menyeberangi lapangan untuk duduk di bangku panjang saya lihat banyak wajah2 yang sudah lebih dulu hadir disitu memandangi saya. Sama2 gak kenal, tapi sama2 familiar dengan wajah2 orang tua murid yang sering datang ke sekolah. Dan belum juga 2 menit saya duduk, diseberang jalan diluar pagar tiba2 saya lihat suami turun dari mobil dan melambaikan tangannya kearah saya. Buru2 saya bangun dan kembali bergegas keluar diiringi pandangan orang tua murid yang sudah sedari tadi memang memandangi saya. *Bah*

Belum sempat saya bertanya keheranan suami sudah ngomong duluan : 'Kamu kemana sih? Daritadi ditelpon tapi gak diangkat!'
Saya : 'Ada apa? Kenapa? Tadi aku ke centrum sebentar. Iya aku lupa bawa handphone. Kan belum telat buat jemput Griffin'. Penyakit saya memang hape sering ketinggalan, atau gak denger. Tapi ngomong2 saya baru ngeh ini suami naik mobil siapa ya?
Suami : 'Udah lah, masuk aja ke mobil. Si Griffin jatuh kita harus segera ke eerstehulp (UGD)'. Kata suami sebelum saya sempat tanya2. What? Saya buru2 buka pintu belakang dan masuk kedalam mobil. Griffin duduk dibangku belakang dengan rambut lepek keringat, wajah sembab basah karena menangis, dan tangannya menutupi hidungnya dengan sapu tangan yang penuh bercak darah. Bahkan bagian dada t-shirt nya pun ber-darah2.
Saya : 'Masyaallaah ya ampuuun, ini Griffin kenapa Pa??' Saya mendadak panik melihatnya dan langsung peluk dia erat2. Griffin kembali menangis melihat saya. Wiih, saya ngilu liatnya. Rasanya jadi mau ikutan nangis. Khawatir hidungnya yang mungil patah, mblesek, robek, dsb.
Suami : 'Kamu ini sama sekali gak bisa dihubungi pihak sekolah. Akhirnya mereka telpon saya. Untungnya saya bisa lekas datang! Kau gimana sih, pergi gak bawa handphone?!'
Saya : 'Ini Griffin kenapa?'. Saya baru ngeh dengan orang yang duduk dibelakang setir, dan mobil pun melaju menuju rumah sakit. Ternyata concierge di sekolah Griffin. Saya menyapanya sejenak.
Suami : 'Jatuh dilapangan dan hidungnya membentur bangku panjang. Itu, bangku yang tadi kamu duduki barusan'.
Saya : 'Kapan kejadiannya? Kenapa kalian gak langsung aja bawa ke rumah sakit?'.
Suami : 'Saya suruh mereka tunggu sampai saya datang dan saya datang 20 menit setelah sekolah telpon. Ini kita baru saja on the way ke rumah sakit, beruntung saya liat kamu menyeberang jadi kita muter lagi!'.
Waduh, apakah saya beruntung tiba ditempat pada waktunya? Anak jatoh ber-darah2 begitu ..
Concierge : 'Jatuhnya sekitar setengah jam yang lalu, bu. Itu dilapangan depan. Kita udah mau panggil ambulance tapi suami ibu suruh kita tunggu. Sama pak direktur akhirnya saya diminta buat nganterin langsung ke rumah sakit'.
Hhhhm, pantas saja saya dipandangi orang tua murid yang udah dari tadi datang lebih dulu. Mungkin mereka ada yang melihat kejadian saat Griffin jatuh. Agak aneh melihat saya jalan nyantai masuk gerbang dan duduk dibangku panjang menunggu anak saya yang mereka lihat sudah dibawa papanya keluar, sementara saya gak tauk kalo anaknya mengalami accident. Dan gak ada satu orang pun disitu yang inisiatif ngasih tauk!

Si kecil ini umurnya 5 tahun dan ini untuk kedua kalinya dia dibawa ke UGD akibat jatuh. Accident yang pertama terjadi saat ia berumur 2.2 tahun dan ini terjadi pada hari pertama ia masuk voorschool (kindergarden)! Pada saat pauze sedang berlangsung. Setelah kejadian banyak yang tanya : 'Emangnya gak ada yang ngawasin?'.  

Yaaah, sebenarnya ini lebih aneh lagi karena pada saat kejadian, saya, ayahnya, dan beberapa orang guru juga ada disekitar tempat kejadian. Jadi ceritanya didekat2 sudut halaman bermain sekolahnya itu ada gawang futsal lepas- yang gak permanen (gak tertanam ditanah). Nah, saat bermain disekitar gawang tiba2 saja tanpa terduga si kecil lari lalu bergelayut di gawang futsal itu. Baru saja saya mau membuka mulut untuk melarangnya, dan disaat yang sama ayahnya berlari menujunya, si kecil sudah jatuh bersama dengan gawang yang menimpanya. Posisinya jatuh menjengkang dengan sisi besi atas gawang meninpa mulutnya. Jantung saya seperti lepas, napas saya seperti hilang melihat kejadiannya. Semuanya berlangsung dalam hitungan detik. Ayahnya dibantu dengan guru2 yang ada disitu bergegas menolong. Saya mendadak menangis panik melihat banyaknya darah bercucuran disekitar mulutnya. Anaknya nangis kejer2, ibunya ikutan mewek. Membayangkan gigi2nya hancur, juga membayangkan rasa sakitnya! Dan sungguh cepat sekali dalam waktu kurang dari 10  menit saat saya masih belum bisa berpikir apapun tiba2 datang dua orang paramedik.  Rupanya ada seorang seorang guru yang saat itu langsung telpon ambulance. *thank you!* Setelah beberapa saat di check mereka memutuskan agar Griffin segera dibawa ke UGD karena bibirnya robek dan harus dijahit (operasi kecil)!, secara kasat mata tidak ada gigi yang patah namun di RS nanti harus di rontgen untuk memastikannya. Hhhhh, saya mendadak lemes tapi bersyukur keadaannya tidak parah!
Sebenarnya saya bersyukur karena pada hari itu suami ikut ke sekolah Griffin. Coba kalo saya sendiri yang datang, haduh, saya pasti bisanya cuma nangis2 dan panik sendiri. So, ikutlah suami menemani Griffin di ambulance menuju rumah sakit. Saya pulang ke rumah untuk masak dan menunggu anak yang besar pulang, tapi pikiran saya ke si kecil terus- gak konsen, senewen. Lalu sorenya saya menyusul ke rumah sakit sekaligus membawakan baju ganti buat Griffin. 
Kejadian jatuh itu terjadi sekitar jam 11 pagi dan saya menyusul ke rumah sakit sekitar jam 3 siang. Suami baru bilang kalo si kecil ternyata harus puasa lebih dulu sebelum menjalani operasi jam 5 sore nanti. Kasihan, dari momen dia jatuh dia cuma bisa minum padahal dia sudah lapar dan minta makan. Ampun deh hanya operasi kecil tapi 6 jam gak boleh makan! Sorry sayang.

Jam 5 sore operasi dimulai. Cepet kok, gak sampe 30 menit selesai. Anaknya masih tertidur pengaruh obat biusnya. Yup, 6 jam berpuasa untuk 30 menit operasi. Setelahnya tertidur kurang lebih satu jam setelah operasi. Kasian sekali, bibirnya kelihatan lebih jontor dari sebelum di operasi. *Hiks!*
Saat dia tersadar yang dia cari minum, sebenarnya dia lapar tapi dia takut untuk makan. Saya yang melihat juga ngilu! Oleh dokter ia diberikan eskrim yang sekaligus berguna untuk mengompres lukanya. Singkat cerita malam itu kita kembali dirumah pukul 9 malam. What a long day!

Griffin ini alhamdulillaah sejak bayi sampai sekarang gak pernah sakit yang sampai harus dibawa ke dokter. Biasanya ke dokter hanya untuk check up rutin bayi dan vaksinasi. Jadi sebenernya saya agak geregetan juga secara tidak pernah bawa dia ke dokter karena sakit- tapi yang terjadi malah sampai dua kali masuk ke UGD. 

Ya Allah, semoga kedepannya kita semua terus diberikan kesehatan .. Amiiin YRA.

Note :
Sejak kejadian Griffin jatuh tertimpa gawang futsal, sorenya pihak sekolah langsung menanam gawang tersebut jadi permanen *telaat*. Insiden yang dialami Griffin adalah insiden pertama (dengan gawang futsal yang sudah ada disitu lebih dari 4tahun)  yang dialami murid disitu.  
Ajaib deh si Griffin ..



Friday, July 12, 2013

Teman Jadi-jadian


Ada gitu ya?

Tentu saja ada! Mungkin sebenarnya pada hal yang akan saya ceritakan ini penggunaan istilah 'teman' ini kurang tepat. Namun karena pada awalnya saya menganggap mereka demikian dan kenyataan selanjutnya tidak demikian, yah, sebenarnya mungkin akan lebih tepat jika saya gunakan istilah 'kenalan'. Aman.  Umumnya mereka ini bukan teman dekat-dekat amat siiih ... Jadi ada masa-masa 'menghilang'nya. Nanti suatu saat mereka nongol lagi. Biasanya saat mereka butuh sesuatu, butuh bantuan, pastinya mendadak mereka beredar kembali disekitar saya.   

Si A teman lama saya. Saat lulus sekolah dia pindah kota, jadi wajar udah gak pernah ketemu bertahun-tahun hingga dia balik lagi ke Jakarta. Entah dari mana dia dapat alamat saya, tiba-tiba suatu hari dia nongol di rumah saya. Lalu sejak itu seringlah dia main ke tempat saya. Kadang rutin, kadang juga kadang-kadang. Suatu ketika dia butuh duit dan meminjamnya ke saya. Karena jumlah yang ia butuhkan besar saya tidak lantas memberikan semua jumlah yang dia butuhkan. Maka saya pinjamkan jumlah yang secukupnya karena saya pun punya banyak kebutuhan dan gak mungkin kasih pinjam semua uang saya. Pada bulan-bulan itu ia masih sering datang berkunjung hingga akhirnya perlahan tapi pasti ia menghilang. Gak pernah datang lagi, gak pernah telpon saya lagi, dan sama sekali gak bisa dihubungi. Buron!
Ya sudah lah kalo memang dia gak mau saya temukan. Untuk apa saya harus kejar-kejar dia? Ada beruntungnya saya hanya meminjamkannya jumlah yang pantas. Memang jumlahnya tidak sedikit, tapi itu sejumlah uang yang memang saya relakan jika tidak bisa ia kembalikan. Dan ternyata orangnya malah hilang! Mungkin kalo ia berniat mengembalikan saya percaya dia bisa mengembalikannya, tapi saya kira dia memang tidak mau repot-repot mengembalikan uang saya. Mungkin nasib saya sedang jelek. Gpp, yang penting niat saya waktu itu memang mau nolong dia. So, biarlah kita masing-masing yang mendapatkan ganjaran sesuai perbuatan kita. Saya mungkin kesal tapi gak dendam

Si B teman kursus saya pada jaman saya masih menetap di kampung halaman, Jakarta. Berhubung saya pindah ke Belanda hubungan kita jadi jarang. Paling-paling cuma lewat FB dan YM!. *Oh iya, YM! pada masa itu sungguh masih sangat populer digunakan* Suatu saat dia kontak saya lagi via YM! lalu dia cerita jika dia mau menikah dengan WN Belanda. Sejak itu hampir setiap hari kita mulai chat lagi via YM!. Dia juga banyak tanya-tanya saya mengenai prosedur menikah, prosedur ujian yang harus diikuti, prosedur pindah kemari, beserta pertanyaan mengenai berkas-berkas yang harus dia persiapkan. Sebagai salah satu orang yang sudah melewati dan lulus semua proses itu, saya dengan senang hati kasih dia macam-macam info. Berbulan-bulan kita chat mengenai semua prosedur dan berkas-berkas ini.  Trus suatu ketika dia berhenti online dengan YM!. Saya gak pernah melihatnya ON lagi di YM!.  Udah tuh, buat saya gak masalah dan menurut saya pun gak aneh kalo orang gak online, mungkin dia sibuk, dan dia sudah pasti sedang mengurus berbagai macam persiapan. Hingga berbulan-bulan kemudian ketika di FB saya liat photo-photonya saat menikah dan juga photonya di Belanda yang menyatakan dia sudah pindah kemari (tapi beda kota dengan saya).  Wajar dong ya kalo saya kasih komen congratulations ke dia. Satu hari- dua hari- tiga hari- saya gak dapat respons apa-apa dari dia, jadi saya coba check lah ke temboknya di FB.
Dan saat itu saya baru ngeh ada tulisan 'Add Friend'  di halaman dia punya FB. Ngerti kan? Yang artinya saya dan dia belum temenan. *Loh? Kayaknya beberapa hari lalu kita masih temenan?*. Suwer saya gak unfriend dia!  Tapi yang saya pahami sekarang, dia sudah berhasil meraih 'cita-cita'nya dan mungkin karenanya merasa gak perlu lagi berteman dengan saya. Titik.

Yang namanya si C itu teman saya jaman terakhir masih kerja di Jakarta. Punya pacar WN Belanda juga. Pernah suatu ketika si C liburan dari Jkt kemari buat ketemu pacarnya, dan tentunya saya dan dia janjian juga buat ketemuan di kota saya tinggal, bahkan ia mampir berkunjung ke rumah saya. Waktu itu rumah saya masih ditengah pusat kota Amsterdam yang merupakan tempat yang wajib buat dikunjungi turis-turis, jadinya gampang sekali buat ketemuan dengan teman-teman yang datang ke Amsterdam.
Nah, setelah kembali ke Jakarta si C dan saya masih sering kontak via YM! ataupun email. Masalah si C sama dengan masalah si B, dan tentunya tanpa ada prasangka apa pun saya bantu dengan informasi semampu saya. Hingga akhirnya ia menikah dan pindah ke Belanda. Tentunya saya senang karena tandanya bakal nambah teman disini walaupun kita tinggal beda kota. 
Suatu hari saya (lagi-lagi) melihat di FB photo-photo si C dan teman-temannya saat mereka berada disebuah toko yang jaraknya cuma berselang dua rumah dari saya! Maknyooss rasanya hati ini. Ih, dia kok diam-diam aja ya? Harusnya si C bisa mampir ke rumah saya secara cuma jarak tujuh meter dari situ. Setidaknya dia bisa ngabarin kalo mau ke kota saya secara saya tujuan dia dan temannya gak jauh-jauh dari tempat saya tinggal. Nggak perlu lah ngajak saya secara saya juga belum tentu bisa, belum tentu di rumah, dan belum tentu juga mau ketemu teman-temannya yang belum saya kenal. Beberapa bulan kemudian saya lihat lagi photo-photonya disekitar DamSquare yang, haduh, cuma butuh enam menit buat saya jalan dari rumah kesitu. Lagi-lagi si C diam-diam saja. Padahal ekspetasi saya cuma satu : telpon kek, ngabarin kek gitu-- dan itu pun gak perlu setiap kali dia main ke kota saya.
Saya jadi ingat si B! Saya pikir si C ini beda, ternyata sama aja sama si B yang ternyata perlu saya cuma kalo lagi butuh bantuan. Karena photo-photo itu saya mulai agak keki akhirnya saya dengan cueknya nyapa dia duluan via YM! Agak sinis memang ucapan saya : "Gitu yaaa, temennya udah banyak nih di Belanda sampai-sampai sering main ke Amsterdam tapi gak pernah ngabarin nih, apalagi mampir .. " (lengkap dengan emoticon smile segala). Trus dia balesnya begini, "Ih gue dari belum tinggal disini udah banyak kok temen gue disini Ann.. ". Gitu.  Gue gak bales. Dia pun gak berusaha kasih penjelasan apa-apa lagi. Udah, dua baris gitu doang chat-nya. 
Saya jadi gak habis pikir, kemarin-kemarin itu kalo temannya banyak kenapa pilih kontak saya buat cari info ini dan itu ya? Okelah, mungkin dia juga tanya-tanya temennya yang lainnya. Tapi selama itu kalo tetap chat dan emailan sama saya juga itu kan namanya cuma buang-buang waktu dia aja kan? Khususnya buang-buang waktu saya! Sejak itu saya EGP lah .. Sebelumnya saya menganggap mereka semua teman, tapi ternyata mereka tidak menganggap saya teman. Ya sudah! Setidaknya saya jadi tau seperti apa karakter asli mereka. Sampai detik ini kita masih sama-sama ada di kontak friend FB. Tapi ya gitu deh, saya unfollow. Gak kepengen juga liat status dan photo-photo dia.

Semua orang memang punya karakter berbeda. Saya orangnya asik-asik aja, gak pilih-pilih dalam bergaul selama mereka mau bergaul dengan saya yang blak-blakan ini. Saya berusaha menjaga perasaan orang lain, kenal atau pun gak kenal, selama orang itu bukan orang jahat. Saya nggak pernah maksa orang yang memang gak mau berteman dengan saya. Tapi saya bukan orang yang munafik seperti mereka. Kalau saya pada dasarnya gak menyukai seseorang, saya gak akan pernah minta bantuan mereka dalam bentuk apapun. Jadi terus terang saya ENEQ banget terutama dengan jenis dua mahluk terakhir yang saya ceritakan diatas.  si B dan si C.

Itu yang saya maksud dengan teman jadi-jadian.

Insyaallaah bantuan saya kemaren itu jadi berkah pahala buat saya ...  *Amiin*




Wednesday, November 23, 2011

Foggy days in November ... Brrr!




Damsquare01, Amsterdam

Damsquare02, Amsterdam

Along Damrak, Amsterdam


Taken in November 2011 at Damsquare & Damrak

Friday, August 19, 2011

One Fine Summer Day




rood1

Photobucket

Taken in August 2011 at Weterpark

Friday, June 17, 2011

The Bulldog Cafe & Waterlooplein

You haven't been in Amsterdam if you never been at Bulldog Cafe :)
There are several Bulldog Cafes spread around Amsterdam. And when a friend came to visit me here, I brought her there where located around the RedLight District. She didn't want to come inside. Sure not, unless you wanted to smoke some grass- better picked other cafe.
And other picture was taken from Waterlooplein. I just like the sight of that old cafe.



BullDog Cafe Waterlooplein Brug



Friday, March 26, 2010

Kedai Rambut Nenek

Suikerspin, atau rambut nenek, atau gulali :)


suikerspin2 suikerspin1

Saturday, March 06, 2010

Toko Merah

Een winkeltje in de buurt (warmoesstraat) : ROOD
Seru bener! Yang dijual segalanya pernik2 serba meraaaah ...

rood1

Photobucket

Friday, March 05, 2010

statue : BELLE

Located on Oudekerkplein next to the old church, Amsterdam Central

Photobucket