Sunday, October 12, 2014

Turis, Traveller, & Fashion


Buat saya ini tinggal di negara yang jauh dari kampung halaman itu paling seneng banget kalo ada famili atau kenalan dari Indo yang datang. Jangan kan kedatangan famili atau kenalan, dijalanan pun kalo ketemu atau melihat turis asal Indo yang saya gak kenal pun, hahaha, suka senang hati melihatnya. Iya, serius. 
Dan setelah lama tinggal disini saya jadi bisa membedakan yang mana turis dan yang mana yang bukan. Yang terlihat saling ngobrol dalam bahasa Indonesia belum tentu turis. Yang terlihat photo disana dan photo disini belum tentu turis. Yang terlihat sightseeing tanpa membawa ransel atau koper pun belum tentu turis. Yang terlihat membawa banyak jinjingan kantongan butik pun belum tentu turis.  
Jadi bagaimana dong membedakannya?  Hahaa, sebenarnya saya gak punya definisi yang pasti buat membedakannya. Dan gak perlu juga repot-repot membedakan yang mana yang turis dan mana yang bukan, hehhee. Tapi naluri saya umumnya selalu jitu buat membedakan mereka. Kesimpulan paling gampang, biasanya sih yang jalannya nyantai-nyantai dan yang matanya celamitan melihat sesana kemari, ke kiri ke kanan, keatas, mengamati sekitarnya dengan kamera selalu dileher atau ditangan itu jelas 95% pasti  turis.  

Pernah terjadi ada satu hal lucu saat saya bertemu dengan seorang turis cowok asal Indonesia. Saat itu saya sedang berdiri bersandar diseberang jalan sebuah toko yang menyediakan produk-produk Asia. Teman saya sedang berbelanja didalam toko itu. Setelah beberapa saat dari toko itu keluarlah segerombolan orang yang sudah pasti deh orang Indonesia semua. Tiba-tiba diantara mereka (cowok) ada yang teriak sambil menunjuk kearah saya, "Eeeh, ada orang Indonesia! Orang Indonesia ya, mbak? Orang Indonesia kan??" teriaknya rame banget sambil cengar-cengir. "Tinggal disini ya mbak?", tanyanya lagi. Teman-temannya jadi ikutan cengar cengir sambil melihat kearah saya. *Duh! Pake TOA aja sekalian mas, biar orang satu jalanan denger, heehhe.* Saya jadi ikutan nyengir sambil mengacungkan jempol tangan. Ini orang udah pasti seorang turis penggembira asal Indonesia. Saya sudah khawatir mereka akan menyeberang kearah saya, tapi untungnya ada teman mereka yang menunjukan arah jalan yang berlawanan dengan tempat saya bersandar. Cowok itu teriak lagi, "Enak ya mbak disini. Fun banget!", katanya.  "Okee, mau lanjutin jalan nih mbak, sampe ketemu lagi ya, have a nice day mbak!" Ia dan beberapa temannya melambaikan tangan. Saya pun membalas lambaian tangan mereka sambil merasa harus bilang, "Met jalan-jalan yaaa .. Jangan kesasar! Hati-hati copet!". Jarang-jarang banget ada orang friendly seperti itu, turis atau pun bukan turis.

Sebenarnya yang mau saya tulis disini mengenai ketakjuban saya pada turis-turis asal Indonesia masa kini. Maksud saya turis-turis yang kekinian. Yang saya amati banyak diantara mereka khususnya yang fashionista (perempuan dan banyak duit tentunya) itu tampil bukan main kerennya. Pastinya sih lebih untuk keperluan tampil di photo. Banyak yang pake jaket keren tebal isi bulu bebek ber-merek (meskipun sebenernya bukan sedang winter) lengkap dengan sepatu boot keren sedengkul. Yaa, yang bukan turis pun ada juga sih yang tampil demikian  (tapi sejujurnya saya malah jarang liat bule-bule yang tampil keren dengan coat dan boot sedengkul ber-merek cuma buat seliweran jalan-jalan layaknya turis). 
Saya penasaran. Bagi turis Indonesia yang kekinian seperti itu sebenernya seberapa sering mereka bisa menggunakan koleksi coat dan boot (sedengkul, bok) semacam itu di Indonesia ya? Kalau jawabannya coat dan boot itu digunakan hanya untuk saat mereka liburan ke LN, trus seberapa sering kah mereka vakansi ke negara empat musim dalam setahun? Hhuuuaaa ....  

Saya punya teman disini yang kenalannya dari Indo pernah liburan selama 2 minggu disini. Dalam 2 minggu itu saya amati photo-photonya (via FB, ofcourse) dia berganti 3 macam coat tebal berbeda dan 3 macam jenis sepatu (1 sneaker dan 2 pasang boots) keren. Saya tahu pasti itu bukan dipinjam dari teman saya. Ampun deh saya yang gerah ngebayangin masalah koper dan packing-nya! Rempong amat sih?? Lagipula memiliki 3 coat tebal (yang saya lihat cuma 3 kan?) tapi tinggal di Jakarta buat apa juga ya? Sepatu boot sedengkul buat dipake kemana coba? Gerah mak!
*Ah, terserah deh, duit- duitnya dia, tenaga- juga tenaganya dia .. heuheuheuu*

Saya juga punya seorang teman yang sudah pernah melancong ke banyak banget negara-negara di dunia. Seingat saya ia sudah pernah hinggap disetidaknya di 4 kontinen- tampaknya hanya Afrika yang belum (menurut saya ini sudah sungguh hebat!). Buku passpornya selalu mirip komik bergambar, penuh dengan stiker dan stempel. Passpor bekasnya pun sudah berbuku-buku. 
Dalam satu tahun ia bisa melancong ke 4 atau 5 negara, yang tiap kalinya gak pernah kurang dari 2 minggu. Serius. Backpack. Pergi sejauh dan sebanyak mungkin dengan dana sesedikit mungkin- walau sebenarnya dia gak perlu ngirit. Saya senang melihat photo-photo nya di FB saat ia berada di berbagai negara, kota, dan tempat. Photo-photo nya tidak melulu di tempat-tempat yang indah ataupun tenar di negara tersebut. Dan ia-pun tidak selalu tampil di photo. Hahaa, jadi gak bosen juga liat tampang dia melulu di photo. Kadang karena terlalu rutin posting photo-photonya setiap hari selama dia bepergian, jadi saya yang suka mikirin dia ini kapan pulangnya? Yang menariknya dari sebanyak itu photo-nya diberbagai negara saya perhatikan coat yang ia punya hanya ada 3 macam. 2 coat yang tebal dan 1 wind breaker. Buat dia punya segitu cukup. Sepatunya kalau gak pake sneaker biasanya ia pake hiking boot.  Jadi yang dipakainya tergantung musim dan tempat di negara yang akan ia kunjungi. Tidak semua coat dia bawa. Ringan dan praktis. Tampilan gak penting, tempat tujuan dan petualangannya lebih penting. 

Seleb Indonesia semacam si "Putri" yang suka heboh pamer kalau ke LN itu bisa disebut sebagai Turis. Memang tidak semua turis asal Indonesia tampil seheboh si Putri ini ya. Tapi untuk teman saya yang satu ini saya nggak bisa menyebutnya sebagai turis. She is a traveller! A real traveller!
Jadi saya punya kesimpulan sendiri buat membedakan antara Tourist dan Traveller. *Wink!*

Iya, maaf, lagi-lagi ini sebuah postingan yang gak penting karena saya memang suka ngomongin hal-hal gak penting kan?






Post a Comment