Friday, January 15, 2016

Tetangga Bawah, Part 2.


Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang tetangga yang tinggalnya persis dilantai bawah unit kami. Itu loooh Belanda couple tanpa anak yang dikit2 merasa terganggu mendengar suara Griffin si kecil saya yang berlarian dan berloncatan disana sini. Nah, sudah cukup lama berbulan bulan sepertinya malah nyaris hampir setahun kita gak pernah lagi mendengar komplen dan ketukan2 mereka dari lantai bawah, sampai saya sendiri sudah lama lupa kalau mereka biasa mengetuk ngetuk dari bawah. Apa karena sekarang rumah kita lumayan padat dengan banyak perabot membuat suara lebih teredam? Selama ini kita nggak pernah sekalipun bertemu lagi atau bahkan berpapasan disekitar apartemen hingga hari ini saya dengan tidak sengaja bertemu si istri didepan lift. Saya baru saja melangkah keluar lift dan perempuan itu hendak melangkah masuk kedalam lift. Ada sekitar 3 detik kita sama2 tercengang sebelum akhirnya saling menyapa. Tapi yang jelas saya yang lebih lama tercengang melihatnya menenteng baby car seat lengkap dengan seorang bayi laki2 didalamnya. Aaahh lutuna ini baby!

Saya : Apa kabar? Ini anak kamu? Cakepnyaa ..
Dia : Iya.
Saya : Wah saya bahkan nggak tauk kapan kamu hamil dan kapan dia lahir.
Dia : Ya, dia ini sekarang umur 5 bulan.
Saya : Pantas kalian sudah lama gak kelihatan, sibuk ya, punya bayi pula.
Dia : Iya, maaf ya kalau dia sering menangis kencang2 ... terdengar sampai atas ya.
Saya : Ah gak apa2 .. (Padahal saya sambil mikir2 nih, kapan ya saya pernah dengar suara bayi nangis?)
Dia : Apalagi kalau tengah malam menangisnya kencang sekali, pasti kalian keberisikan. (Oooohh, ternyata yg tiap malem nangis2 itu dia punya bayi? Hehhe)
Saya : Gak apa2 kok, namanya juga bayi. Masa saya mau marah2 sama bayi? (Semoga sindiran saya kena)
Dia : Saya khawatir kalian tetangga terganggu. (Ciyeee, dia khawatir)
Saya : Disini kan yang punya anak kecil dan bayi kan bukan cuma kamu. Sudah pasti semua sama2 ngerti. Lagipula dia ini masih bayi belum apa2, tunggu saat nanti dia sudah mulai bisa benar2 berjalan dan berlari. Pfffff!! (Saya pasang rolling eyes. Seneng aja nakut2in, bisa aja anaknya bakal pecicilan spt Griffin trus gantian dia yang bakal bolak balik dikomplen tetangga bawah mereka. Hehhee)

Entah kenapa setelah hari itu saya malah jadi agak sering berpapasan dengan mereka, entah si istri entah si suami, bahkan kadang mereka berdua. Dan yang ajaibnya tiap kali berpapasan mereka gak pernah lupa bilang "Maaf ya kalo si bayi mengganggu tidur kalian". Setiap kali. Haduh, sepertinya mereka sekarang jadi parno sendiri sama kita. Dulu2 saat masih single kurang toleransi sama tetangga, tepatnya sama anak kecil. Sekarang setelah punya baby sptnya mereka jadi malu hati karena merasakan sendiri situasi2 yang kadang susah kita kendalikan. Dan menurut dugaan saya yang sok tauk ini, pastinya punya bayi itu diluar rencana mereka. Logika saya kalau orang memang sudah ingin punya anak seharusnya mereka sudah paham bagaimana situasi kondisi rumah dgn adanya anak2. Setidaknya mereka bisa lebih memahami dan lebih bertoleransi dgn keributan yang diciptakan anak2, sadar bahwa suatu saat mereka mungkin akan berada di posisi yang sama dan mengalami hal yang sama. Eh, sori, bahkan orang yang single pun banyaaaaak yang bisa toleransi ke anak2 atau ke orang lain. Iya nggak sih?

Saya memang udah beberapa lama ini seringnya tiap tengah malam mendengar bayi menangis. Tapi suwer deh itu tidak mengganggu saya karena bagi saya suara orang2 mengobrol, suara bayi menangis, dan suara2 yang ditimbulkan oleh anak2 bermain tertawa berteriak (yang alami, bukan yang pake nabuh gendang loh) itu sama saja halnya dengan mendengar suara kendaraan lalu lalang dijalan. Alami. Wajar. Yang gak wajar itu semacam saat punya stereo baru dgn sound system canggih segede gaban lalu langsung putar musik volume paling pol atau saat berpesta pasang music house hingar bingar sepanjang malam. Bisa budeg dah sayaaa ...

Yang pasti saya ini paling terganggu dengan bunyi2an yang konstan seperti air menetes netes dari keran yg tidak tertutup rapat yang meskipun tidak terdengar kencang tapi bisa bikin saya geregetan mendengarnya! Juga suara orang jedakjedok memaku atau mengebor tembok. Ngalamin nih, waktu itu di apartemen ada yang rempong ngerjain rumahnya. Maku maku, ngebar ngebor. Gak jelas juga dari lantai berapa tapi bunyinya nyaring di kuping sesiangan. Dua hari doang tapi cukup membuat saya gila.

Laaah, saya OOT lagi nih ...



Post a Comment