Friday, March 04, 2016

Nggak Seram Tapi Horror!


Kemarin malam karena gak ngerti lagi mau nonton film apa, saat browsing di Youtube saya menemukan sebuah film pendek di Youtube, horror tentunya. Pendek, tapi sangat menarik! Genre-nya memang horror, namun sama sekali tidak menyeramkan. Tapi yaaa, horror!
*Hahaha, bingung kan? Enggak seram tapi horror!*

Menurut saya ide ceritanya sungguh orisinil, tak terbayangkan sebelumnya. Jadi kalau ada yang penasaran silahkan nonton aja deh ...


Ngomong-ngomong screen capture diatas ini ngaco banget- karena sama sekali nggak ada adegan ini dan gak ada orang-orang itu di film-nya. So, nggak usah pada takut, saya janji filmnya berbeda, agak aneh, dan nggak seram! Durasinya pendek, kurang dari 30 menit.

Film pendek yang kedua ini juga agak beda dan gak horror. Menurut saya idenya boleh juga.



Enjoy!





Friday, January 15, 2016

Tetangga Bawah, Part 2.


Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang tetangga yang tinggalnya persis dilantai bawah unit kami. Itu loooh Belanda couple tanpa anak yang dikit2 merasa terganggu mendengar suara Griffin si kecil saya yang berlarian dan berloncatan disana sini. Nah, sudah cukup lama berbulan bulan sepertinya malah nyaris hampir setahun kita gak pernah lagi mendengar komplen dan ketukan2 mereka dari lantai bawah, sampai saya sendiri sudah lama lupa kalau mereka biasa mengetuk ngetuk dari bawah. Apa karena sekarang rumah kita lumayan padat dengan banyak perabot membuat suara lebih teredam? Selama ini kita nggak pernah sekalipun bertemu lagi atau bahkan berpapasan disekitar apartemen hingga hari ini saya dengan tidak sengaja bertemu si istri didepan lift. Saya baru saja melangkah keluar lift dan perempuan itu hendak melangkah masuk kedalam lift. Ada sekitar 3 detik kita sama2 tercengang sebelum akhirnya saling menyapa. Tapi yang jelas saya yang lebih lama tercengang melihatnya menenteng baby car seat lengkap dengan seorang bayi laki2 didalamnya. Aaahh lutuna ini baby!

Saya : Apa kabar? Ini anak kamu? Cakepnyaa ..
Dia : Iya.
Saya : Wah saya bahkan nggak tauk kapan kamu hamil dan kapan dia lahir.
Dia : Ya, dia ini sekarang umur 5 bulan.
Saya : Pantas kalian sudah lama gak kelihatan, sibuk ya, punya bayi pula.
Dia : Iya, maaf ya kalau dia sering menangis kencang2 ... terdengar sampai atas ya.
Saya : Ah gak apa2 .. (Padahal saya sambil mikir2 nih, kapan ya saya pernah dengar suara bayi nangis?)
Dia : Apalagi kalau tengah malam menangisnya kencang sekali, pasti kalian keberisikan. (Oooohh, ternyata yg tiap malem nangis2 itu dia punya bayi? Hehhe)
Saya : Gak apa2 kok, namanya juga bayi. Masa saya mau marah2 sama bayi? (Semoga sindiran saya kena)
Dia : Saya khawatir kalian tetangga terganggu. (Ciyeee, dia khawatir)
Saya : Disini kan yang punya anak kecil dan bayi kan bukan cuma kamu. Sudah pasti semua sama2 ngerti. Lagipula dia ini masih bayi belum apa2, tunggu saat nanti dia sudah mulai bisa benar2 berjalan dan berlari. Pfffff!! (Saya pasang rolling eyes. Seneng aja nakut2in, bisa aja anaknya bakal pecicilan spt Griffin trus gantian dia yang bakal bolak balik dikomplen tetangga bawah mereka. Hehhee)

Entah kenapa setelah hari itu saya malah jadi agak sering berpapasan dengan mereka, entah si istri entah si suami, bahkan kadang mereka berdua. Dan yang ajaibnya tiap kali berpapasan mereka gak pernah lupa bilang "Maaf ya kalo si bayi mengganggu tidur kalian". Setiap kali. Haduh, sepertinya mereka sekarang jadi parno sendiri sama kita. Dulu2 saat masih single kurang toleransi sama tetangga, tepatnya sama anak kecil. Sekarang setelah punya baby sptnya mereka jadi malu hati karena merasakan sendiri situasi2 yang kadang susah kita kendalikan. Dan menurut dugaan saya yang sok tauk ini, pastinya punya bayi itu diluar rencana mereka. Logika saya kalau orang memang sudah ingin punya anak seharusnya mereka sudah paham bagaimana situasi kondisi rumah dgn adanya anak2. Setidaknya mereka bisa lebih memahami dan lebih bertoleransi dgn keributan yang diciptakan anak2, sadar bahwa suatu saat mereka mungkin akan berada di posisi yang sama dan mengalami hal yang sama. Eh, sori, bahkan orang yang single pun banyaaaaak yang bisa toleransi ke anak2 atau ke orang lain. Iya nggak sih?

Saya memang udah beberapa lama ini seringnya tiap tengah malam mendengar bayi menangis. Tapi suwer deh itu tidak mengganggu saya karena bagi saya suara orang2 mengobrol, suara bayi menangis, dan suara2 yang ditimbulkan oleh anak2 bermain tertawa berteriak (yang alami, bukan yang pake nabuh gendang loh) itu sama saja halnya dengan mendengar suara kendaraan lalu lalang dijalan. Alami. Wajar. Yang gak wajar itu semacam saat punya stereo baru dgn sound system canggih segede gaban lalu langsung putar musik volume paling pol atau saat berpesta pasang music house hingar bingar sepanjang malam. Bisa budeg dah sayaaa ...

Yang pasti saya ini paling terganggu dengan bunyi2an yang konstan seperti air menetes netes dari keran yg tidak tertutup rapat yang meskipun tidak terdengar kencang tapi bisa bikin saya geregetan mendengarnya! Juga suara orang jedakjedok memaku atau mengebor tembok. Ngalamin nih, waktu itu di apartemen ada yang rempong ngerjain rumahnya. Maku maku, ngebar ngebor. Gak jelas juga dari lantai berapa tapi bunyinya nyaring di kuping sesiangan. Dua hari doang tapi cukup membuat saya gila.

Laaah, saya OOT lagi nih ...



Friday, January 08, 2016

Kerajinan Tangan


Beberapa hari belakangan saya merasa lagi rajin dan penuh semangat nih. Rasa kreatif mendadak muncul, rasanyanya ingin bikin-bikin sesuatu buat mengisi waktu luang. Kemarin-kemarin ada teman yang kasih lihat saya sjaal dari benang wool yang yang baru saja selesai dia kerjakan. Hasilnya standar ya, mirip-mirip dengan sjaal wool yang umum dijual di toko. Dia bilang caranya gampang gak perlu knitting, cuma modal tangan dan saya bisa liat tutorialnya di Youtube. Akibatnya saya jadi ter-inspirasi juga buat mencoba bikin sjaal dari wool sendiri *Mumpung lagi winter*. Sebenarnya sjaal yang saya miliki sudah lebih dari cukup dan warnanya lumayan bervariasi. Tapi toh gak ada salahnya nambah sjaal lagi dengan warna berbeda kan? Apalagi teman saya bilang gak perlu knitting. Kebeneran! Secara saya gak kepengen banget belajar knitting atau crochetting seperti itu.

Siang ini selesai jemput Griffin pulang sekolah mulailah saya browsing 'Arm Knitting' di Youtube. Saya cari tutorial yang paling simpel. Ternyata bener loh, cuma perlu modal benang wool dan kedua belah tangan/lengan kita saja. Setelah berulang kali melihat clip tutorialnya dan mengamatinya baik-baik, langsung lah saya beranikan praktek.

Gak perlu menunggu terlalu lama, sekitar 30 menitan kemudian ... Hhuuaaa, benang wool-nya kusut ditangan! Gggrrr!! Ternyata prakteknya tidak semudah kelihatannya. Atau barangkali saya yang memang kurang luwes, kurang terampil. Cukup sekali praktek dan saya menyerah! Hadeuuh, males aja mengulangnya lagi. Sebetulnya caranya mudah sih, tapi karena harus membuat loop yang dilakukan berulangkali dari satu lengan ke lengan yang lain-- ih, mata rasanya berkunang-kunang, loosing track. Liyeur, ah! Jadi saya berhenti dan kembali lagi-lagi mengulang clip tersebut.

Nah, gak sengaja, persis beberapa clip dibawah tutorial itu saya menemukan clip tutorial lainnya. 'HOW TO KNIT A SCARF USING A SHOE BOX'. Waaah, menarik! Sebenarnya clip ini berbahasa Jepang dan saya gak ngerti itu orang ngomong apa tapi toh gak ngaruh karena saya hanya perlu melihat tehniknya. OMG, yang ini sudah pasti jauh lebih mudah daripada Arm Knitting. Kotak bekas sepatu pun banyak! Buru-buru saya cari kotak sepatu yang tidak terpakai.


Dan setelah mengikuti instruksi awalnya, mulailah saya menganyam benang wool saya. Iya, saya sebut menganyam karena pekerjaan ini sebetulnya tidak tepat jika disebut merajut/knitting. Caranya betul-betul mudah. Saya menganyam dengan lancar jaya!
Kekurangannya cuma satu. Ternyata pekerjaan menganyam ini butuh waktu. Kapan selesainya yaa?? Clip-nya bohong banget deh bilangnya hanya dibutuhkan waktu 3 jam buat menyelesaikannya. Tadi saya memulainya sekitar jam 15.15 dan saat ini sudah jam 17.00 lewat tapi benang wool saya masih saja segelondong besar seperti tidak berkurang. Huh, saya kan masih harus masak buat makan malam, masih harus menemani si kecil mengerjakan latihannya, dan pekerjaan emak2 umumnya.


Yah, ternyata menganyam benang wool capek jugaaa! Tapi sisi baiknya pekerjaan ini bisa ditunda dan dilanjutkan lagi nanti-nanti. So, saya kesampingkan dulu kotak sepatu dan benang wool-nya diatas lemari. Tampaknya bisa saya lanjutkan sedikit nanti malam. Kalau belum selesai juga mungkin akan saya lanjutkan lusa karena yang jelas besok saya gak akan di rumah seharian.


Lusanya pekerjaan menganyam saya lanjutkan sesempat saya. Belum juga bisa diselesaikan! Besoknya lagi-lagi saya kurang punya waktu luang, akhirnya skip lagi satu hari. Hingga hari selanjutnya. Pekerjaan mudah, tapi jari jemari saya jadi sakit semuaaaa, hhuhuuhuhuu! Tapi lumayanlah benang wool-nya sudah terlihat mulai berkurang. Tapi masih juga belum bisa diselesaikan. Saya capek! Tapi lanjuuut .. karena tampaknya sudah hampir jadi nih!


Hingga akhirnya sedikit demi sedikit benang wool semakin menipis dan sjaal mulai terlihat bentuknya. Yaayyy .. Bahkan si kecil pun ikut senang karena sudah beberapa hari belakangan ia tahu kalo ibunya sering sibuk berkutat dengan benang wool.


Dan akhirnya pekerjaan saya selesai. Alhamdulillaah. Sjaal saya sudah jadi! Yes! Bagus kan? Mungkin gak spesial banget, tapi ini betul-betul kepuasan bathin. Sesuatu banget! Saya memulainya pada hari Jumat dan ini hari Rabu! Weh! Yang katanya bisa diselesaikan dalam 3 jam ternyata saya selesaikan dalam waktu 5 hari, wkwkwkk! Saya percaya sebenarnya mungkin kalo tidak bekerja dan tidak sedang repot saya bisa mengerjakannya lebih cepat nih, walau tentunya gak mungkin 3 jam, yaaa sedikitnya 1-2 hari. Maksimal 3 hari TOP.

Next time saya mau bikin warna yang lain aaah ..


Friday, April 24, 2015

Tetangga Bawah, Part 1.

Saya masih ingat masa sekitar 2,5 tahun silam saat baru saja pindah ke apartemen kami yang sekarang. Kami menempati apartemen dilantai 5. Dibandingkan dengan apartemen kami yang sebelumnya, apartemen ini 2x lebih besar ukurannya. Dan perabotan kami yang (saat itu) tidak terlalu banyak menjadikan rumah ini terasa sungguh lapang. Terutama jika memiliki cowok kecil usia 3 tahun yang super energetik. Sungguh gak ada capeknya si kecil lari kesana kemari atau berloncatan di sofa, dsb. Pada periode itu kami sedang sibuk2nya bebenah dan menata rumah, oleh karenanya si kecil yang super aktif ini kadang sungguh bikin sakit kepala dengan segala kegaduhannya dan mainannya yang bertebaran di sana sini.

And you know what, belum juga genap satu minggu kita tinggal disini dengan kondisi rumah still in a big mess, suatu sore ada seseorang mengetuk pintu depan. Ternyata tetangga kita persis di unit bawah- si istri- datang buat mengeluhkan suara2 berisik dari lantai kita. Kita jelaskan bahwa kita memang punya anak kecil yang (kita sadari sendiri) sungguh aktif berlarian dan berloncatan didalam rumah meskipun sudah bolak balik kita peringati agar bisa lebih tenang, tidak berlarian dan berloncatan. So, we said sorry to her.
Malamnya setelah makan malam saat Griffin tengah asyik bermain, kita dengar ubin diketuk2 dari bawah. That was the beginning of their annoying code! Sejak saat itu setiap kali mereka merasa terganggu dgn bunyi2an dari lantai kita, mereka mulai mengetuk-getuk dari bawah. Sesungguhnya ini lebih terdengar mengganggu dikuping ketimbang mendengar suara atau keributan yang dibuat Griffin. *Rasanya pengen banget nih nabokin mereka!*

Beberapa hari kemudian disekitar jam 7 malam tetangga bawah kembali datang mengetuk pintu. Kali ini si suami yang datang mengeluh karena (same old story) mendengar Griffin nonstop berlarian dan berloncatan hingga terdengar keras dari unit mereka. Again, we only said the same excuse, the same explanation, and said sorry.

Idiiiih! Saya ini jadi emosi banget sama ini tetangga! Nggak perlu laaah bolak balik komplen! Memangnya kita sendiri didalam rumah gak denger? Memangnya kita membiarkan? Memangnya kita gak pernah ngebilangin anaknya? Emangnya kita ortu apaan?

Oh ya, tetangga bawah kita ini pasangan yang entah sudah menikah atau cuma samen wonen (not my problem) dan mereka tidak memiliki anak. Dan yang menurut gue toleransi mereka itu cetek banget!  Kalo kegaduhan (terutama berulangkali/setiap saat) yang ditimbulkan kita orang dewasa, saya bisa mengerti bisa menerima kalo mereka kesal. Lah, ini ulah anak kecil! Sadarilah bahwa kita juga menyadari dan kita pun agak kesal kalo yang kecil ini gak bisa diam walau sudah berkali kali diterangkan. Anak 3,5 tahun bok! Emangnya saya harus ikat anak saya biar dia diam dan gak berlarian?? Dasar tetangga begoooo!
Saya juga sering kok dengar suara gerabak gerubuk anak2 berlarian dan berloncatan di lantai atas dan jelas2 ditimbulkan oleh lebih dari satu orang anak. Kadang gak cuma sebentar. Dan berisik gak? Tentu saja terdengar agak berisik dari tempat saya yang berada tepat dibawah unit mereka. Memang berisik, tapi kita tidak merasa perlu komplen keatas. Gak merasa perlu ketok2 plafond buat kasih mereka kode biar gak berisik. Yaaa, namanya anak2 kalo mainnya agak ribut mah lumrah. Anak2 dilarang bikin ribut ya susah!

Selama seminggu setelah si suami datang komplen ke rumah- tetangga bawah masih cukup sering ketok2 ubin kita- hingga suatu sore sekitar sebulan setelahnya, si istri datang lagi ketok2 pintu kita. Iya, mau komplen lagi. Kali ini saya persilahkan dia masuk. Well, mungkin dia juga penasaran mau melihat si kecil tukang berisik ini. Dan untuk yang kali ini saya gak mau repot2 minta maaf. Dia harus tauk bahwa saya ini ortu yang peduli dengan anak, yang berusaha menerangkan mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Saya tidak membiarkan saja anak2 saya bermain dengan kacau tanpa saya awasi dan peringati. Sejujurnya saya mengharapkan agar mereka (tetangga bawah ini) lebih bisa toleransi.
Saat masuk kedalam saya lihat tetangga saya agak terdiam. Hahaa, mungkin dia baru lihat sendiri sekarang kalo rumah kami itu masih sungguh lapang, belum banyak perabot, dan masih lumayan banyak kardus2 berjejer di dinding. Ruang duduk kami sungguh plong! *Iya kami memang nyantai banget, udah hampir 3 bulan rumah belum juga diisi dan ditata. Makanya si kecil senang berlarian didalam rumah, maklumlah gak punya pekarangan.*
Setelah sejenak melihat-lihat kedalam akhirnya tetangga permisi pulang tanpa banyak bicara lagi selain minta maaf sudah ngeganggu kita. *Right!* Sepertinya saat itu logika nya sudah mulai nyambung, mulai paham mengapa dari bawah terdengar berisik. Iya laah, secara kita kan belum lama pindah kemari dan ruangan kita saat itu masih lapang2 tanpa banyak perabot besar dan tentunya lantai lebih mudah bergetar dan menimbulkan gema suara yang lebih keras ke lantai dibawah kita. Dan setidaknya tetangga udah melihat sendiri kalo si tukang berisik ini cuma cowok kecil manis yang aktif kebanyakan energi, bukannya anak bandel yang gak bisa diatur.

Aaaasss sutralah!
Kalo mereka masih hobi ketok2 lagi dari bawah, saya telpon polisi nih! Grrr ..