Wednesday, December 29, 2004

Gak Mampu, Gak Kuat


Sampai hari ini liputan2 mengenai Aceh masih bikin gue terharu. Pada dasarnya gue nggak tega terus2an melihat liputan2 yang memilukan seperti itu. Mungkin sudah ada sebagian orang yang bosan dengan liputan2 itu- tapi keinginan buat mengikuti perkembangan keadaan disana bikin gue terus menyimak semua liputan mengenai Aceh. Bahkan gue sampai perlu buka2 lagi peta Sumatra khusus buat spotting nama2 kota di NAD dan pulau2 disekitarnya *Beginilah kalo orang buta geografi!*

Beberapa hari lalu gue malah terpikir buat join PMI sebagai tenaga relawan di Aceh. Ingin rasanya bisa sedikit bantu2 mereka dengan ikutan PMI membagikan kebutuhan mereka akan makanan, pakaian, atau obat2an. Ini baru keinginan dikepala- dihati. Walau begitu Raymond amat mendukung niat gue. Sayangnya, walaupun ini baru niat, sewaktu gue singgung2 sedikit ke Nina, anak itu sudah menjerit-jerit tidak setuju. Belum2 ributnya minta ampun, seolah gue yang pasti he'eh akan ke Aceh besok. Padahalpun kalo gue beneran daftar di PMI, belum tentu gue di-approve mengingat gue totally inexperience sebagai relawan. Jangankan musibah besar seperti ini, melihat kecelakaan (Oh plis, jangan sampe) dijalan pun belum pernah! Melihat jenazah pun bukannya belom pernah, tapinya kan bukan jenazah dengan kondisi yang rusak?
Orang2 dikantor malah pada meledek, " Plis, jangan deh An, ngerepotin aja loe. Nanti bukannya elo yang bantu gotong2 orang sakit- malah elo yang di gotong2 orang. Semaput." Gitu. Rese ya? Bukannya kasih semangat malah pada mencela aja bisanya. Thank you guys!

Tapi setelah semua dukungan dan celaan itu, barulah terpikir : Apa betul gue sanggup jadi relawan? Dengan segitu banyaknya pemandangan mayat2 disegala arah mata memandang, dan dengan bau mayat dimana-mana mengiringi langkah kita (tsah! Tumben yahud banget bahasa gue!). Dan pelan2 pun gue mulai ragu. *Get real, Anna!* Bukan nggak mungkin malah gue sendiri yang ikutan bingung dan panik disana.

Sekarang ini gue bener2 sudah mengurungkan niat jadi relawan karena ternyata gue sendiri pun susah membayangkan diri gue tabah (setidaknya terlihat tabah) berada disana. Wong usus-nya pendek kok pengen jadi relawan on the spot seh? Apalagi setelah melihat sudah semakin banyak relawan yang datang kesana. Cukup bikin hati gue lega!
Yah, setidaknya kemarin gue ikut menyumbang mereka semampu yang gue bisa. Dan Insyaallah akan terus menyumbang selama rejeki gue masih ada.
Post a Comment