Tuesday, December 28, 2004

Dan Gue Ikut Menangis ..

Duh! Musibah bencana memang bisa dateng setiap saat.
Awalnya gue nggak menyangka kalo gempa di Aceh hari Minggu pagi yang lalu itu 'was a big disaster'! Emang inilah kejelekan gue, kurang merhatiin berita2 semacam itu. Karena di Indonesia gempa cukup sering terjadi- gue menganggap bencana kemarin termasuk jenis gempa 'biasa'. Dan kebetulan hari minggu itu hampir seharian gue nggak semenitpun nongkrong didepan TV.
Gue baru 'ngeh' musibah gempa di Aceh kemarin adalah musibah yang luar biasa besar dan mengerikan pada keesokan harinya, Senin malam. Itupun karena gue nggak sengaja dengar 'breaking news' disebuah TV swasta yang mengatakan bahwa korban telah mencapai 4000an jiwa (sekarang ini sudah mencapai sekitar 29.000 jiwa. Imagine!). Saat itu gue sedang menyetrika dilantai beberapa baju yang belum sempat disetrika si embak. Mendengar laporan itu- barulah gue mulai terlongo-longo memandang TV. OMG....

Memang sih, gue nggak punya saudara dan kenalan disana, tapi hati gue benar2 hancur melihat liputan2 di TV. Mayat begitu banyaknya hingga berserakan dimana-mana bagaikan sampah dan memang menyatu dengan sampah dan lumpur, tersangkut ditiang listrik dan diatas pohon, atau yang terkubur dibawah tumpukan puing2. Astaghfirullaahal'azhim! Dalam sekejab ribuan orang kehilangan keluarga dan semua harta benda miliknya. Mereka yang selamat hilir mudik penuh kepanikan, dan ada juga yang terlihat linglung. Hancur rasanya melihat mayat2 anak kecil berjejer dengan kondisi yang menyedihkan. Ini benar2 kiamat versi kecil! Satu kota lenyap dalam sekejap. Rasanya (menurut gue) Aceh emang selalu MPO; cari perhatian mulu- namun sekarang seluruh dunia tauk jika kali ini mereka nggak pernah minta dikirimi bencana tsunami buat cari perhatian. Gue benar2 menangis sesenggukan menatap TV. Dan sumpah- gue nggak merasa perlu malu buat menangis menyaksikan musibah ini.

Beberapa menit setelahnya, gue baru inget kalo seharusnya gue tadi sedang merokok. Tapi dimana pula rokok sialan itu? Gue nggak menemukannya diasbak dimeja rendah disamping gue duduk. Tangisan gue sesaat terhenti. Mana ya? Tanpa asap, tanpa bauk terbakar- akhirnya gue menemukannya terjatuh dari asbak (karena sudah terbakar begitu panjang) dan tergeletak diatas karpet, masih menyala, dan membuat diameter lubang hangus hampir sebesar 2 cm! Gile bener! Perlahan- lahan membakar dan melubangi karpet tanpa kita tahu. Hampir saja gue yang kena musibah terbakar.
Oh, karpet-ku yang malang....
Post a Comment